Kemeriahan Konvensi di Jakarta, Catatan Ketua Asosiasi Kuala Lumpur, Baba Cedric Tan

Kemeriahan Konvensi di Jakarta, Catatan Ketua Asosiasi Kuala Lumpur, Baba Cedric Tan

 Wayang Cina Jawa (Wacinwa)

Ketika Aspertina (Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia) didaulat menjadi tuan rumah Konvensi Baba Nyonya 2014 yang ke-27, saya bersemangat untuk mendaftar. Setelah mengikuti lebih dari 20 konvensi, saya mengambil kesimpulan bahwa acara perdana biasanya akan berlangsung mengagumkan.

Pertama, ini adalah bukti bahwa komunitas Peranakan merupakan komunitas diaspora dan beragam. Kedua, tuan rumah baru ini menjanjikan tidak adanya biaya tambahan untuk membuat kesan pertama yang sangat baik. Secara pribadi, itu adalah pertama kalinya bagi saya memimpin delegasi dari Kuala Lumpur dan Selangor sebagai presiden dari PPBNKLS (Peranakan Baba Nyonya Kuala Lumpur & Selangor).

Baba Nyonya Convention 27th Jakarta

Pada hari Jumat, 28 November, kami tiba di Jakarta dan dilanjutkan dengan acara makan malam. Acara tersebut diisi dengan pertujukan Wayang Tradisional Potehi atau pertunjukan boneka  yang menampilkan cerita mengenai Sie Jin Kwie. Wayang ini dibawakan oleh seniman muda berbakat sekaligus pelestari wayang. Selain itu, ada juga live music. Acara dilanjutkan dengan penampilan para anggota asosiasi Peranakan dan ditutup dengan tarian sepanjang malam itu.

Acara pembukaan konvensi berlangsung di hotel Grand Sahid Jaya keesokan harinya, diawali dengan ulasan singkat mengenai warisan Peranakan lokal. Bapak Joseph ‘Aji’ Chen Bromokusumo membangkitkan selera makan kami ketika berbincang soal masakan Peranakan, sementara Bapak Hartono Sumarsono  membuat kami kagum dengan beragam koleksi batik miliknya. Prof. Abdullah Dahanan menutup rangkaian acara dengan cerita mengenai sejarah budaya Peranakan Tionghoa di Indonesia.

Konvensi Baba Nyonya 2014 ke-27

Selama jam istirahat, para delegasi berbelanja di bazzar yang disediakan oleh panitia acara dan hasrat berbelanja mereka dipuaskan dengan membeli beraneka ragam kain batik, kebaya, buku, dan kerajinan tangan. Aspertina juga mementaskan sebuah fashion show yang spektakuler. Perancang busana terkenal Indonesia diundang untuk menunjukkan kreasi mereka yang terinspirasi budaya Peranakan, seperti Samuel Wattimena, Poppy Dharsono, Itang Yunasz, Geraldus Sugeng, Afif Syukur, dan Hendy Wijaya.

Kebaya Fashion Show

Pada hari ketiga dan terakhir, Ketua Asosiasi Kuala Lumpur, Baba Cedric Tan sangat menyukai kunjungan ke Jakarta Utara untuk berwisata di kota tua dan pelabuhan. Setelah konvensi berakhir, beberapa delegasi berangkat ke Tangerang di mana Persaudaraan Peranakan Tionghoa Warga Indonesia (Pertiwi) telah menyiapkan program tiga hari untuk mengunjungi tempat bersejarah di Benteng, Bogor, dan Ciputat. Saat berada di Benteng, saya melihat batik langka mahakarya Oey Soen Tjoen di Heritage Museum. Di Roemah Boeroeng, kami disuguhi dengan 111 jenis makanan pembuka, menu utama, makanan penutup, dan buah. Saya teringat makanan seperti masak chin, masak sio and masak buah keluak.

Pengalaman saya selama berada di Indonesia telah menegaskan niat saya untuk kembali menghadiri konvensi-konvensi yang akan datang. Saya menyukai sensasi ketika mengunjungi suatu tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya tanpa ada bayangan apa yang akan saya temukan di sana, dan ‘wow’ ketika menemukan sesuatu yang menakjubkan.

Baba Nyonya Convention Farewell Party 2014

Ditulis oleh Ketua Asosiasi Kuala Lumpur, Baba Cedric Tan
Diterjemahkan oleh Tari & Ferdi
Foto: Koleksi Aspertina