Festival Dongzhi/Winter Solstice

Festival Dongzhi/Winter Solstice

Sumber: imgarcade.com

Kalender peranakan mencatat festival Dongzhi/Winter Solstice sebagai festival terakhir dari seluruh rangkaian perayaan pada penanggalan Tionghoa. Pada tahun ini, Dongzhi Festival jatuh pada tanggal 22 Desember 2015, yang merupakan hari terpendek dengan malam terpanjang sepanjang tahun.  Festival ini menandai pula dimulainya  musim dingin yang ekstrem.

Secara tradisi, festival ini dirayakan dengan berkumpulnya seluruh keluarga bersama-sama. Reuni  dan kebersamaan keluarga ini disimbolkan dengan membuat dan menyantap  tangyuan, makanan khas yang selalu dihadirkan pada perayaan ini. Tangyuan berbentuk bulat, terbuat dari beras ketan yang menandakan ikatan kekeluargaan yang erat. Bulatan bola ketan ini biasanya diberi warna cerah dan dapat diisi dengan wijen, kacang atau pasta kacang manis. Tangyuan yang diberi isi manis (ronde) direbus terlebih dahulu dan disajikan dengan kuah  jahe yang diberi sirup.

Makna lain dari bulatnya Ronde juga dapat ditelusuri dari ajaran filsafat kuno Tiongkok mengenai Yin dan Yang, gelap dan terang. Setelah perayaan Dongzhi yang jatuh pada musim dingin, disaat lebih banyak gelap dari pada terang dan energi negatif lebih banyak, maka musim akan berganti menjadi musim semi, di saat terang lebih mendominasi dan energi positif lebih banyak.

Filsafat ini disimbolkan oleh salah satu Hexagram (Ba Gua) dalam kitab I Ching yang disebut “fu” yang berarti “kembali”. Hal ini sesuai dengan bentuk bulat, yang saat menelusurinya secara lurus dari satu titik maka akan kembali ke titik semula.

Legenda

Menurut legenda, di Tiongkok, pada masa Dinasti Han, hidup seorang gadis pelayan bernama Yuanxiao di Istana Raja. Ia memiliki keahlian memasak bola-bola ketan (tangyuan). Yuanxiao sangat merindukan kedua orangtuanya, namun karena peraturan istana yang ketat, ia tidak diizinkan keluar istana untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Merindukan kedua orangtuanya, Yuanxiao menangis sepanjang waktu, bahkan berusaha untuk bunuh diri.

Kesedihan Yuanxiao terdengar oleh seorang menteri dan berjanji untuk menolong. Menteri tersebut melaporkan peristiwa ini kepada Sang Kaisar. Tapi, peraturan istana adalah peraturan yang tidak bisa dilanggar oleh siapapun kecuali ia memiliki jasa besar dan pantas menerima hadiah dari kaisar. Menteri pun mencari cara agar dapat mengeluarkan Yuanxiao dari istana.

Saat itu sekitar sebulan menjelang tahun baru penanggalan Tionghoa (Imlek). Dan, setiap bulan pertama tanggal 15 penanggalan Imlek (Cap Go Meh), sebuah festival besar dirayakan untuk berterima kasih kepada Kaisar Langit dengan memberikan persembahan makanan. Menteri mengusulkan kepada kaisar agar memerintahkan Yuanxiao untuk membuat bola-bola ketan (tangyuan) yang lezat sebanyak mungkin untuk disajikan sebagai persembahan kepada langit dan dimakan oleh kalangan istana dalam festival tersebut sebagai syarat agar ia bisa keluar dari istana. Kaisar pun menyetujuinya.

Dengan senang hati Yuanxiao menerima tugas tersebut, siang dan malam, seorang diri ia memulung adonan tepung ketan menjadi tangyuan.

Menjelang festival tanggal 15, Yuanxiao pun menyelesaikan tugasnya membuat tangyuan dan mempersembahkan kepada kaisar dan di altar persembahyangan. Kaisar mencicipi dan merasa sangat puas.

Dianggap berjasa karena menunaikan tugas dari kaisar dengan baik, Yuanxiao akhirnya mendapatkan izin keluar istana untuk menemui kedua orang tuanya. Dan, sejak saat itu kaisar memberi nama masakan dari tepung ketan (onde/tangyuan) tersebut dengan nama Yuanxiao dan festival tanggal 15 bulan pertama Imlek (Cap Go Meh) disebut juga dengan Festival Yuanxiao.

Ronde/Tangyuan di Indonesia

Budaya untuk merayakan Festival Dongzhi/Winter Solstice juga dibawa bersamaan dengan migrasi penduduk Tiongkok ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Ronde merupakan tangyuan yang telah bercampur dengan budaya Indonesia, dan umumnya diisi dengan kacang manis tumbuk dan disajikan dengan air jahe.

Istilah wedang ronde merujuk pada air jahe panas, yang disajikan bersama dengan ronde. Air jahe juga bisa disajikan dengan potongan roti, kolang kaling dan taburan kacang tanpa kulit. Wedang Ronde menjadi suguhan yang sangat umum di Indonesia dan menjadi salah satu kuliner yang memperkaya kuliner Indonesia.

Penulis: Rebecca Muljadi

Sumber: Wikipedia dan Sysmetryworldpress