Festival Ceng Beng

Festival Ceng Beng

 

Sumber Gambar: travelblog.ticktab.com

Festival Qingming (hanzi tradisional: ; sederhana: ; pinyin: q?ng míng jié) atau Cheng Beng (bahasa Hokkian) adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur.

Festival ini dilaksanakan pada hari ke-104 setelah titik balik Matahari di musim dingin (atau hari ke-15 pada hari persamaan panjang siang dan malam di musim semi), dan dirayakan pada tanggal 5 April di tahun kabisat.

Secara astronomi, dalam terminologi matahari, Festival Q?ngmíng dilaksanakan pada hari pertama dari 5 terminologi Matahari, yang juga dinamai Q?ngmíng. Nama yang menandakan waktu untuk orang pergi keluar dan menikmati hijaunya musim semi (Tàq?ng ??, "menginjak tumbuhan hijau"), dan juga ditujukan kepada orang-orang untuk berziarah kubur. Hari Festival ini dijadikan hari libur umum di Tiongkok, begitu juga di Hong Kong, Macau dan Taiwan.

Seperti festival-festival lain yang sarat dengan legenda, maka festival Q?ngmíng juga memiliki banyak legenda yang menjadi latar belakang perayaan ini, diantara yang terkenal adalah legenda Jie Zhitui.

Legenda Jie Zhitui   

Pada mulanya, tradisi Ceng Beng dicetuskan oleh putra mahkota Chong Er dari Dinasti Tang. Suatu hari karena difitnah oleh salah seorang selir raja, Chong Er terpaksa melarikan diri ke gunung bersama para pengawalnya. Kelaparan karena tidak membawa bekal makanan, salah seorang pengawal bernama Jie Zhitui memotong bagian badannya dan memasaknya untuk sang putra mahkota agar tidak mati kelaparan. Mengetahui pengorbanan pengawal setianya itu, Chong Er merasa sedih, tetapi Jie menghibur sang putra mahkota dan memintanya agar tetap teguh bertahan hingga Chong Er dapat kembali ke istana dan merebut tahta dari selir raja yang jahat.

Tiga tahun lamanya mereka bertahan hidup dalam kelaparan di gunung hingga akhirnya sang selir meninggal dunia. Sepasukan tentara menjemput Chong Er untuk kembali ke istana.  Saat itu dia melihat Jie Zhitui mengemasi sebuah tikar tua ke atas kuda. Chong Er tertawa dan meminta Jie untuk membuang tikar itu, tetapi Jie menolaknya dan berkata,”...hanya penderitaan yang dapat hamba bagi bersama paduka, bukan kemakmuran...”. Jie berpamitan kepada Chong Er untuk tetap tinggal di gunung bersama ibunya.

Setelah Chong Er kembali ke istana, dia bermaksud mengundang Jie Zhitui. Tetapi Jie tidak berhasil ditemukan di mana pun. Chong Er memerintahkan tentara untuk membakar hutan di gunung itu agar Jie segera keluar menemuinya. Alih-alih bertemu dengan Jie, sebaliknya, tentara menemukan Jie Zhitui mati bersama ibunya di bawah pohon willow. Chong Er sangat sedih melihat pengawal setianya itu malah mati karena keinginannya. Sejak itu Chong Er memperingati hari itu sebagai hari Hanshi. Pada saat peringatan Hanshi ini, Kaisar tidak mengijinkan siapapun menyalakan api untuk memasak, sehingga peringatan ini juga dikenal dengan sebutan Perayaan Makanan Dingin.

Apapun festivalnya, apapun legenda yang melatar belakanginya, tetapi benang merah dari seluruh festival ini adalah berkumpulnya keluarga besar. Karena nilai kekeluargaan selalu menjadi salah satu nilai yang dijunjung tinggi oleh peranakan Tionghoa di mana pun mereka berada.

Sumber: Wikipedia