Cirebon Kota 3 Budaya

Cirebon Kota 3 Budaya

Bukan tanpa sebab Tur Budaya Aspertina yang pertama memilih Cirebon sebagai kota tujuan. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, serta akses yang mudah tentunya menjadi salah satu pertimbangan pemilihan kota Cirebon. Namun bukan semata-mata faktor jarak dan akses, tetapi karena Cirebon sebagai salah satu kota pesisir, sangat sarat dengan budaya. Mengunjungi Cirebon sama dengan mengunjungi 3 budaya dalam satu tempat, sebuah perpaduan cantik dari budaya Indonesia, Tiongkok dan Timur Tengah.

Sebagai salah satu kota yang memiliki pelabuhan, sejak ratusan tahun yang lalu Cirebon telah menjadi kota dagang yang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Tiongkok, Timur Tengah dan Eropa. Budaya peninggalan asing bercampur dengan budaya asli penduduk lokal, mebuat Cirebon menjadi kota yang multicultural. Jejak percampuran budaya terlihat sampai saat ini, baik dalam bentuk arsitektur, kuliner, motif batik, tarian, dan masih banyak lagi.

Sebagian hasil percampuran budaya ini akan sama-sama kita nikmati dalam Tur Budaya Cirebon yang akan diselenggarakan Aspertina pada tanggal 28 November 2015.

Budaya

Keraton Kasepuhan Cirebon

Mengunjungi Keraton Kasepuhan Cirebon, ibarat mengunjungi tempat bersejarah dengan gabungan 3 budaya dan 3 agama. Bentuk bangunan, berbagai koleksi benda kuno dan pernak-pernik di dalamnya merupakan perpaduan dari agama Islam, Hindu dan Buddha, serta tiga budaya yaitu Jawa, Tiongkok, dan Eropa.

Keraton Kasepuhan berisi dua komplek bangunan bersejarah yaitu Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuanadan komplek keraton Pakungwati (sekarang disebut keraton Kasepuhan) yang didirikan oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529 M.

 

Foto: dokumentasi Aspertina

 

Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi merupakan kawasan cagar budaya seluas 15 hektar yang berlokasi di kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon yang berbentuk bangunan mirip candi. Nama "Sunyaragi" berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "sunya" yang berarti sepi dan "ragi" yang artinya raga. Gua ini pada masanya digunakan sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya.

Kompleks Gua Sunyaragi terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Dari corak dan motif ragam rias serta pola bangunan, gaya arsitektur Gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik yang banyak dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, gaya Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah dan gaya Eropa.

 

Foto: dokumentasi Aspertina

 

Kelenteng Dewi Welas Asih

Semula nama kelenteng Dewi Welas Asih adalah Tiau Kak Sie. “Sie” artinya rumah orang beribadat (tempat bertapa). Tio” berarti air pasang (air naik), dan “kak” berarti bangun dari tidur atau membawa kepada akal yang benar.

Kelenteng dengan bangunan utama seluas 1.600 m2 ini menghadap ke arah Selatan. Pada halaman Kelenteng, terdapat jangkar yang diduga dibawa oleh para pendatang dari Tiongkok yang datang dengan kapal laut. Kelenteng ini diperkirakan berdiri pada tahun 1595 M, akan tetapi siapa pendirinya tidak diketahui dengan pasti hingga sekarang.


 

Foto: dokumentasi Aspertina

 

Wisata Batik Trusmi

Trusmi sejatinya merupakan nama sebuah Kampung yang terkenal sebagai pusat kerajinan batik Cirebon. Tidak hanya wisatawan lokal yang berkunjung ke sini, banyak juga wisatawan asing ikut berburu batik Cirebon dengan harga yang relatif murah.                             

Trusmi berasal dari nama seorang tokoh Islam yang konon murid setia dari Sunan Gunung Jati, yaitu Ki Gede Trusmi. Beliau mengajarkan Islam kepada penduduk setempat sekaligus mengajarkan cara membatik. Makam Ki Gede Trusmi masih terawat dengan baik dan sering digunakan sebagai tempat ziarah.

Batik Cirebon yang terkenal dengan motif, warna dan keindahannya, dapat kita temui dengan harga yang bervariasi.


 

Foto: gotocirebon.com

 

Kuliner  

Bila membicarakan kuliner Cirebon, yang terbersit pertama kali di pikiran kita adalah nasi jamblang, empal gentong dan tahu gejrot. Dua di antaranya akan kita nikmati pada Tour Budaya Cirebon kali ini bersama Aspertina.

Nasi Jamblang

Nasi Jamblang boleh disebut kuliner yang paling identik dengan Kota Cirebon. Nasi jamblang terdiri dari nasi yang dikombinasikan dengan sayur tahu, tempe goreng, perkedel kentang, ikan asin, dan sambal yang dibungkus dengan daun jati.

Dahulu, nasi Jamblang merupakan santapan para buruh pada zaman penjajahan Belanda. Namun kini, nasi jamblang menjadi salah satu kuliner paling ikonik di Cirebon.

 

Foto: dokumentasi Aspertina

Empal Gentong H. Apud

Empal gentong merupakan salah satu makanan khas Cirebon yang terkenal, berupa daging sapi dengan kuah santan dan bumbu kuning.

Cara memasak yang unik dengan menggunakan gentong tanah liat yang dimasak dengan kayu bakar, menjadikan kuah dan daging masakan ini terasa istimewa.

Anda hendak ikut menikmati uniknya kota tiga budaya ini bersama keluarga besar Aspertina? Segera hubungi info@aspertina.org untuk informasi lebih lanjut.


Foto: makanmakan.com

 

Penulis: Rebecca Muljadi

Editor: Ferdinand