Resepsi Peranakan Tionghoa Modern di Desa Lengkong Karya

Resepsi Peranakan Tionghoa Modern di Desa Lengkong Karya

Resepsi Peranakan Tionghoa Modern

Sabtu, 11 April 2015 Jakarta diguyur hujan yang cukup deras mengiringi perjalanan Tim Aspertina ke Desa Lengkong Karya di Tangerang untuk menghadiri resepsi pernikahan Peranakan Tionghoa, Albert dan Fanny.

Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Jalan di pedesaan ini sudah dilapisi dengan cor beton sehingga dapat dilalui dua kendaraan roda empat dengan mudah. Dari kejauhan sudah terlihat janur kuning yang terpasang di pintu masuk dan spanduk ucapan selamat datang.

Acara pernikahan jauh dari kesan mewah ataupun glamor. Resepsi bukan berlangsung di gedung aula ataupun rumah tinggal melainkan di sebuah tanah kosong yang ditutupi dengan tenda besar berwarna merah muda dan kuning. Tampak beberapa orang siap menyambut para tamu di muka pintu.

Kemudian di bagian ujung barisan terdapat meja pendaftaran tamu. Setelah kami mengisi buku tamu, kemudian kami disambut kedua mempelai yang diapit oleh orang tua masing-masing.

Baik kedua mempelai maupun para keluarga tidak lagi menggunakan baju adat, tetapi menggunakan pakaian modern. Sang pengantin pria mengenakan setelan jas sedangkan mempelai wanita mengenakan gaun pengantin.

Aneka Suguhan Makanan

Suguhan Makanan Resepsi Peranakan Tionghoa Modern

Setelah selesai bersalaman, kami langsung disuguhkan piring untuk mengambil makanan utama. Ada yang unik saat kami hendak mengambil makanan, yaitu hidangannya terbagi menjadi dua meja dengan tulisan “Masakan Indonesia” dan “Masakan Tionghoa”.

Dandang Tradisional

Bedanya, di meja bertuliskan “Masakan Tionghoa” terdapat menu Babi Kecap. Sedangkan makanan lainnya seperti asinan penganten, cap cay, sambel godok, sayur lodeh, pare baso, ayam semur, ayam goreng, kerupuk, dan acar tetap ada di kedua meja.

Nah, untuk menu Pare Baso sebenarnya sudah jarang ditemui di acara-acara pernikahan, namun di acara pernikahan ini para tamu bisa mencicipi kembali pare yang diisi daging ayam cincang dan disajikan dengan kuah ini. Jika Anda berpikir makanan ini akan terasa pahit, Anda keliru karena ternyata tidak terasa pahit sama sekali.

Para tamu juga disuguhkan dengan aneka kue seperti kue bika ambon, putu mayang, roti baso, putri terigu, kue mangkok, kue bugis, kue pepe, kue pisang dan lemper. Sebelum dipotong, kue bika ambon di sini berbentuk seperti donat besar karena ada lubang di tengahnya.

Pada bagian lain, terdapat dapur untuk memasak makanan, sehingga para tamu tidak perlu takut kehabisan makanan. Semua makanan dimasak menggunakan kayu bakar dan dandang untuk menanak nasi.

 Persembahan agar Jangan Turun Hujan

Kami sempat berkenalan dengan Oma Uun, orang yang bertugas menangani kue-kue yang disajikan saat acara resepsi. Di sana, Oma Uun tidak hanya bertugas menangani kue-kue saja, tetapi juga bertugas untuk mendoakan agar cuaca pada malam ini mendukung – tidak hujan.

Agar doanya meminta cuaca yang cerah dapat terkabul, Oma Uun menyiapkan beberapa persembahan yang diletakkan pada suatu ruangan khusus. Beberapa persembahan yang disiapkan antara lain payung, pisang, kopi, susu, aneka kue, ayam, teh, dan masih banyak lagi. Selain itu, Oma juga melakukan ritual lain dengan hanya makan nasi putih dan minum air tawar sampai tengah malam.

Persembahan Doa Tidak Turun Hujan

Gambang Kromong

Gambang KromongTidak lengkap rasanya suatu acara resepsi bila tidak diiringi dengan alunan musik. Musik yang disuguhkan pada malam hari ini adalah musik gambang kromong.

Menurut Oma Uun, hanya orang-orang Peranakan Tionghoa yang masih menggunakan gambang kromong pada acara resepsi pernikahan, sedangkan warga non-Peranakan Tionghoa lebih memilih untuk menggunakan musik dangdut.

Beberapa lagu gambang kromong yang dibawakan pada malam hari ini adalah Stambul, Cente Manis, Sirih Kuning dan masih banyak lagi. Ketika lagu Stambul dibawakan, para penari muncul ke tengah area dan menari bersama para pengunjung pria. Sayangnya, para penari tidak mengenakan pakaian adat melainkan kaos dan celana jeans.

Tak terasa hari sudah semakin larut,namun tamu yang hadir justru semakin bertambah. Kini, waktunya kami untuk undur diri. Selamat berbahagia bagi kedua mempelai!

Mempelai Peranakan Tionghoa Modern

Artikel dan foto: Aspertina/Ferdi