Imlek dan Seni Kuliner

Imlek dan Seni Kuliner

Berbicara mengenai kuliner Tionghoa Peranakan tidak bisa lepas dari perayaan Tahun Baru Imlek atau lazim disebut juga Sincia. Di dalam kesempatan inilah keluarga-keluarga Peranakan “memamerkan” kepiawaiannya menyajikan masakan-masakan khas andalan keluarga masing-masing dengan berbagai macam variasi yang tak terhitung jumlahnya. Masing-masing keluarga dengan latar belakang yang berbeda memiliki ciri khas dalam memasak sajian khas Imlek ini.

Penyajian masakan dan makanan berlimpah ini ternyata tidak lepas dari saratnya makna dalam budaya Tionghoa yang penuh dengan perlambang dan simbol-simbol. Baik keluarga-keluarga yang masih menjalankan tradisi bersembahyang untuk leluhur di meja abu ataupun keluarga-keluarga yang sudah meninggalkan tradisi dan memeluk agama-agama Samawi, masih banyak yang menyajikan masakan dan makanan di saat Tahun Baru Imlek dalam acara kumpul bersama keluarga besarnya.

Makanan Sincia di Indonesia sangat unik dan berbeda jauh dari negeri asalnya, berbeda juga dengan negeri lain seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan sebagainya. Kalau lebih spesifik lagi, bahkan tiap daerah akan berbeda pula, baik nama, cara masak, gaya, dan rasanya. Sebagai contoh yang paling jelas adalah keberadaan lontong Cap Go Meh di mana pun juga selain di Indonesia, tidak akan pernah ditemukan makanan ini, dari rasa, style, aroma, apalagi nama.

Istilah “Imlek” yang Khas Indonesia

Istilah atau penulisan “Tahun Baru Imlek” hanya dikenal di Indonesia. Kata Imlek adalah bunyi dialek Hokkian yang berasal dari kata yin li (baca: in li) yang berarti “penanggalan bulan”. Penanggalan Tiongkok berdasarkan peredaran bulan di Tata Surya sehingga disebut dengan Yin Li. Sementara penanggalan yang kita kenal sekarang, dan dipakai luas seluruh dunia disebut dengan yáng li di dalam Bahasa Mandarin, artinya “penanggalan matahari”.

Imlek dikenal juga dengan nóng li (baca: nung li), yang artinya “penanggalan petani”, dimana hal ini bisa dimaklumi, sebagian besar orang jaman dulu adalah bertani. Para petani tersebut mengandalkan kemampuan mereka membaca alam, pergerakan bintang, rasi bintang, bulan, dan benda angkasa yang lain untuk bercocok tanam. Apalagi di Tiongkok yang memiliki empat musim, perhitungan tepat dan presisi harus handal untuk mendapatkan pangan yang cukup.

Perayaan Chinese New Year sebenarnya adalah perayaan menyambut musim semi yang disebut dengan chun jié (baca: juen cie), yang artinya “menyambut musim semi”. Musim semi disambut dengan suka cita karena musim dingin akan segera berlalu dan tibalah saat para petani untuk menanam lagi. Tanaman pangan terutama padi (Tiongkok Selatan) dan kebanyakan gandum (Tiongkok Utara) serta tanaman pertanian lainnya. Karena mengandalkan alam untuk kehidupan mereka, menyambut datangnya musim semi merupakan keharusan yang dirayakan dengan meriah.

Selain disebut Tahun Baru Imlek, banyak juga yang menyebutnya dengan Sincia, yang juga berasal dari dialek hokkian, dari asal kata (xin zhéng, baca: sin ceng). Kata xin zhéng merupakan, “bulan pertama yang baru”, merujuk pada penulisan “bulan pertama” dalam dialek Hokkian berbunyi Cia Gwe.

Sajian Khas Imlek

Dari beberapa referensi yang digunakan, sajian dan rangkaian makanan Imlek atau Sincia terbagi dalam empat jenis makanan yakni sajian utama, kue-kue wajib di meja sajian, manisan wajib, dan buah-buahan wajib. Semua makanan ini diletakkan dan ditata di atas meja sajian sembahyang Imlek:

  • Sajian utama terdiri atas Ca Rebung Iris Kasar (di dalamnya kadang disertakan juhi, haisom, abalone, dan terkadang taoco), ca rebung iris halus (bersama kepiting, udang, atau hisit), daging masak kecap, masakan dari kaki, masakan dari paru, masakan dari lambung, sate daging, ayam-oh, opor ayam, sambal goreng (ampla, hati ayam, dan petai), dan mi goreng.
  • Kue-kue wajib di meja sajian terdiri atas kue keranjang (disusun tiga, empat, atau lima, dihias dengan kertas minyak warna merah), kue moho (bisa diganti dengan kue mangkok, biasanya dicari yang berwarna merah jambu atau merah), yang salah satunya diletakkan di atas susunan kue nagasari, kue bugis, lemper (dibungkus seperti burung), madu mongso, bonko cunduk (bongko meniran atau bongko kopyor), coro bikang, dan ketan tetal (ketan warna biru disajikan dengan sambal ebi).
  • Manisan wajib terdiri atas tangkue, angco (kurma merah, bisa diganti dengan manisan ceremai warna merah. Biasanya manisan ini disajikan dalam piring-piring kecil atau distusuk-tusuk seperti sate; ditata diatas meja khusus bernama cenap. Biasanya tiap tusuk mewakili satu leluhur).
  • Buah-buahan wajib terdiri atas pisang raja atau pisang mas satu sisir, tebu, srikaya, jeruk bali (sebagai lambang persatuan, disajikan masih lengkap dengan tangkai dan daunnya), delima merah, nanas lengkeng, jeruk lokam, dan belimbing. Biasanya buah-buahan ini dihiasi atau dibungkus dengan kertas minyak warna merah.

Makna Sajian-sajian Utama

  • Rebung

Rebung melambangkan pengharapan baru, kehidupan baru yang lebih baik di tahun yang baru. Rebung adalah tunas bambu muda yang mulai tumbuh di musim semi, dan bentuk dari rebung yang berlapis dan bambu sendiri yang ada ruas dan buku, melambangkan tingkat-tingkat kehidupan yang diraih makin ke atas.

  • Mi

Jelas sekali mi merupakan symbol pengharapan panjang umur. Di satu tempat dengan tempat lain berbeda, ada yang menyajikan mi, ada yang mieswa, ada yang sohun. Apa pun itu mengandung arti makna yang sama. Kesehatan dan umur panjang.

  • Samseng

Diambil dari dialek Hokkian dari kata asli san sheng yang disajikan hanya di saat-saat istimewa, dalam tahun baru Imlek, Ceng Beng, atau dalam sembahyangan kematian.

Samseng sendiri mengandung arti hewan darat, laut, dan udara. Penghormatan kepada alam semesta yang sudah bermurah hati memberikan kelimpahan pangan di tahun sebelumnya.

Hewan darat bisa diwakili oleh babi, laut diwakili ikan atau kepiting, sementara udara diwakili ayam atau bebek. Bagi keluarga yang berkecukupan, kepala babi terkadang disajikan, ayam utuh atau bebek utuh juga disajikan. Sementara bagi keluarga sederhana, biasa disajikan sekerat samcan, seekor ikan, dan sebutir telur untuk mewakili. Semua disajikan dengan cara direbus yang mengandung makna kesederhanaan dan ucapan syukur.

  • Daging

Biasanya daging babi yang berlapis, atau nama lain adalah samcan, yaitu bagian belly, yang konon bagian terbaik karena berlapis selang seling daging dan lemak. Dan menunjukkan tingkat-tingkat kehidupan yang naik. Kata ‘samcan’ adalah dari dialek Hokkian, kata aslinya san céng  yang artinya tiga lapis. Kata ‘samcan’ hanya dikenal di Indonesia.

  • Ayam

Ayam yang dimasak dengan berbagai cara, masak-oh, opor, melambangkan pengharapan penghidupan yang makmur. Zaman dulu, di pedesaan, makan daging ayam merupakan kemewahan tersendiri, dan hanya pada kesempatan khusus bisa dilakukan. Di Indonesia, khususnya di Jawa, masak-oh, yaitu masak dengan taoco melambangkan warna tanah yang memberikan penghidupan para petani, sementara dimasak opor melambangkan warna emas.

Sebenarnya opor di Jawa terdiri dari dua macam, opor putih dan opor kuning. Opor putih di sini lebih banyak diminati oleh kalangan emak-emak (sebutan), yaitu para wanita Tionghoa yang sudah membaur dengan kebiasaan setempat menggenakan baju kebaya encim. Penampilan unik ini hanya ada di Jawa. Inilah yang disebut emak-emak dari golongan Tionghoa babah.

Opor kuning biasa dimasak oleh penduduk asli dengan menambahkan kunyit, lebih menyehatkan badan karena kunyit sebagai penyeimbang santan. Seperti diketahui bahwa fungsi kunyit sangat baik untuk kesehatan tubuh. Makna warna kuning diasosiasikan dengan emas, yang berkonotasi kemakmuran.

  • Jeroan (babi atau ayam)

Melambangkan mutiara, segala sesuatu yang berharga yang diharapkan akan berlimpah di tahun yang baru.

  • Wajik, Kue Ku, dan Moho

Wajik yang berwarna merah dari ketan, berbentuk kerucut melambangkan pengharapan baik, yang makin tinggi. Keragaman dan keeratan anggota keluarga juga terlambang disini. Moho yang berwarna merah, sama juga melambangkan persatuan anggota keluarga. Kueku yang di negara tetangga Singapura dan Malaysia lebih dikenal dengan nama ang ku kue acapkali juga ditulis ang ku kwe adalah symbol kura-kura yang melambangkan panjang umur. Dan warna merah, sesuai dengan legenda untuk menakuti monster yang bernama “Nian” (baca: nien), yang takut warna merah dan suara leras. Legenda ini sudah banyak diceritakan di mana-mana.

  • Pisang Emas atau Pisang Raja

Pisang dalam Bahasa Mandarin adalah xiang jiao (baca: siang ciau). Kata xiang yang berarti harum, melambangkan pengharapan keharuman keluarga seluruh anggota keluarga membawa kemuliaan dan tidak memalukan perbuatannya dalam masyarakat. Warna kuning yang melambangkan emas sudah jelas artinya, kemakmuran yang diharapkan.

  • Jeruk, Belimbing, dan buah lainnya

Semua melambangkan pengharapan baik, kemakmuran, kesejahteraan, kepintaran, dan sebagainya. Secara prinsip, semua pelambang adalah untuk kebaikan seluruh anggota keluarga.

 

Penulis: Aji Chen