Cung Yuang, Tradisi Sembahyang Kubur Warga Tionghoa

Cung Yuang, Tradisi Sembahyang Kubur Warga Tionghoa

Cung Yuang, Tradisi Sembahyang Kubur Warga Tionghoa

Aspertina - Upacara sembahyang kubur atau Cung Yuang merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur dan sebagai momen untuk memohon doa agar anak dan cucu yang hidup di dunia ini diberi kehidupan yang lebih baik dan bahagia.

Ada yang menarik dalam acara pertemuan antara warga Tionghoa perantauan asal Kota Dabo, Kecamatan Singkep kabupaten Lingga, dengan warga Tionghoa perantauan di Gedung Pertemuan Panguyuban Sosial Marga Tionghua Indonesia (PSMTI) Dabo, Senin (25/3/2012).

Dimana selain melakukan silaturahmi, mereka juga melaksanakan sembahyang kubur atau dikenal dengan Cung Yuang.

Ayun, Ketua PSMTI Kabupaten Lingga menjelaskan tradisi tersebut dilaksanakan sebanyak dua kali salam setahun, yakni setiap tanggal 1-15 bulan ke-3 dan ke-7 Imlek.

Saat sembahyang, mereka menyediakan persembahan berupa buah–buahan dan lain-lain dimana puncaknya yakni dengan membakar kapal kertas.

Di Dabo, momen sembahyang kubur ini selalu diikuti dengan sembahyang rampas yang umumnya dilakukan pada hari terakhir atau puncak perayaan Cun Yuang dengan tujuan berbagi kegembiraan kepada sesama yang kurang mampu.

Nuansa sembahyang kubur juga terasa di sejumlah kawasan pertokoan Pasar Dabo yang menjual khususnya aneka bahan-bahan untuk keperluan ritual tersebut.

Semua perlengkapan untuk sembahyang kubur seperti baju, sepatu, topi, uang-uangan, kapal, pesawat, kotak uang, sepeda, rumah-rumahan, sampai perabot rumah tangga yang dibuat dari kertas karton.

Ayun menuturkan, dengan adanya kegiatan rituan sembahyang kubur tersebut mereka dapat menyatukan warga perantauan dengan warga setempat.

Selain itu, sembahyang kubur juga merupakan kesempatan untuk melimpahkan jasa–jasa kebajikan kepada arwah leluhur agar tenang di alam baka.

Momen ini juga biasanya menjadi media pertemuan antar keluarga yang mengharukan.

Acara pertemuan itu sendiri menurut salah seorang warga perantauan dari Jiran malaysia James Kuang, sangat bermanfaat untuk meningkatkan tali persaudaraan antar mereka.

"Hubungan menjadi panjang walaupun kita jauh dari perantauan, namun kita semua tetap bersaudara," tutur James.

Dirinya merasa sangat senang bisa berkumpul dengan warga Tionghoa perantauan dan warga tempatan dan bisa saling tukar pendapat di mana masing-masing dari mereka dapat bercerita mengenai daerah perantauannya sedangkan warga setempat sendiri dapat mengetahui daerah di mana mereka berdomisili.

Sumber: Batam Today