Festival Cioko – Penghormatan Kepada Leluhur

Festival Cioko – Penghormatan Kepada Leluhur

Melihat-lihat hasil unduhan foto dari situs kitlv ada yang menarik hati, sebuah foto perayaan keagamaan di Surabaya. Dalam keterangan disebutkan dengan nama rebutan festival atau orang Tionghoa menyebutnya festival Cioko. Festival Cioko ini dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa sejak lama dan hingga kini masih terus dilakukan. Foto masa kolonial tersebut menunjukkan bahwa festival Cioko tersebut dilaksanakan pada tahun 1890 di kota Surabaya dengan kemegahan dan keramaian masa tersebut yang cukup mempesona. Tidak dipungkiri bahwa Festival Cioko ini juga menjadi kekayaan khasanah budaya Indonesia yang semakin beragam. Di bawah ini adalah sejarah muculnya Festival Cioko tersebut di negeri Tionghoa yang diambil dari berbagai sumber.



Festival Cioko (Hanzi: ??; pinyin: gui jie; lit. sembahyang arwah umum), atau disebut juga Festival Hantu Kelaparan, adalah sebuah tradisi perayaan dalam kebudayaan Tionghoa. Festival ini juga sering disebut Festival Tionggoan (Hanzi: ??, pinyin: zhong yuan). Suku Hakka menamakannya Chiong Si Ku yang jatuh pada pertengahan bulan ke-7 (khek=chit ngiet pan). Ritual ini sering dikaitkan dengan hari raya Taoisme Zhongyuan dan Buddhisme Ulambana. Perayaan Ulambana ini disebut juga sebagai Hari Raya Setan (Ghost Festival). Namun sebutan yang sebenarnya Upacara Ulambana ini adalah upacara sembahyang leluhur. Konon, pada Hari Raya Tiong Gwan Cwe, adalah hari di mana Pintu Gerbang Neraka dibuka. Untuk menghindari agar ayah ibu yang telah meninggal dunia tidak mengalami penderitaan Neraka, maka dilaksanakanlah sembahyang kepada roh-roh, dewa dan hantu secara besar-besaran, mengharap agar roh-roh halus jangan menganiaya ayah ibu yang telah meninggal tersebut.

Hari Raya Tiong Gwan Cwe, Hari Raya Ceng Beng, dan Hari Raya Tang Ce adalah 3 Hari Raya Hantu di kalangan orang-orang Tionghoa. Sembahyang pada bulan tujuh ini adalah untuk memberi kesempatan bagi para arwah dan roh-roh di neraka dilepaskan ke dunia untuk mendapatkan ‘liburan’ dan bebas dari alam sengsara atau kita katakan saja kembali ke tempat yang layak. Oleh karena itu pada momen tersebut, orang kelenteng mengadakan upacara untuk memberi makan mereka dan upacara ritual penyebrangan arwah. Hal ini ditujukan untuk mengembangkan welas asih tidak hanya kepada sesama manusia atau binatang tetapi juga kepada mahluk-makhluk yang tak terlihat. Tradisi ini sebetulnya sudah dikenal semenjak jaman sejarah purba Tiongkok tapi waktu perayaan tidak selalu sama, tergantung keinginan penguasa atau orang yang ingin mengadakan upacara itu.

Dalam kitab Liji ?? disebutkan bahwa upacara ini disebut Fuli ?? sedangkan maksud Fu disini adalah memanggil roh orang yang meninggal atau disebut pula Zhao Hun ?? . Pada upacara ini, arwah orang yang sudah meninggal, biasanya leluhur kita, diundang untuk kembali dan dihantar menuju ke tempat asal muasal leluhur tersebut berasal. Kitab Li Ji mengatakan bahwa tindakan ini adalah suatu perwujudan untuk menunjukkan rasa cinta kasih dan bakti. Upacara ini berkembang dimasa dinasti Shang , dimana ritual ini nantinya akan dikaitkan dengan San Guan Da Di  ???? ( penguasa tiga alam) : Penguasa langit yang dianggap memberi rejeki, penguasa bumi yang dianggap menebus dosa, dan penguasa air yang bertindak untuk mengatasi bencana.

Filosofi Tionghoa yang berbasiskan YinYang percaya bahwa manusia hidup adalah bersifat Yang dan arwah-arwah adalah bersifat Yin. Akan tetapi arwah gentayangan atau roh-roh yang tidak memiliki keturunan untuk menyembahyanginya tidak akan kembali ke Yin murni, akan tetapi menderita di alam arwah dan bersifat Yin palsu. Oleh karena itulah maka diadakan upacara ini, dimana pada pertengahan tahun dimana terjadi peralihan antara Yin dan Yang maka adalah suatu tempo dimana ada kesempatan agar roh-roh tersebut kembali dari dunia Yin masuk kembali ke dunia Yang untuk disembahyangi dan diseberangkan menuju alam Yin murni. Penyeberangan itu sendiri sebenarnya adalah suatu pelimpahan jasa baik dari keturunan yang masih hidup kepada arwah leluhurnya. Jasa baik dari keturunan itu dilakukan antara lain dengan memberi makan dan ataupun bantuan lainnya kepada orang-orang kurang mampu yang tinggal disekitarnya. Oleh karena itu tidak heran, bahwa pada kesempatan acara tersebut maka di Indonesia ini pada khususnya ada kebiasaan untuk bagi-bagi beras atau makanan.

Ritual ini merupakan bagian dari ritual-ritual yang berkaitan dengan musim. Seperti kita kenal bahwa tradisi Tionghoa merayakan Shang Yuan ?? (upacara capgomeh), Zhong Yuan ?? dan Xia Yuan ?? Acara sembahyang rebutan ini sebetulnya adalah Zhong Yen Jie atau sering disebut GuiJie, masa peralihan dari semester awal tahun ke semester akhir tahun, dimana terjadinya perubahan Yang menjadi Yin.

Pada saat itu dipercaya bahwa dewa pintu neraka purba yaitu Shen shu ?? dan YuLu ?? ( jangan dibaca ShenTu YuLei ), melepaskan roh-roh yang disiksa di alam bawah untuk masuk ke dunia Yang , dimana mereka memperoleh istirahat dan penghiburan, serta keringanan dosa melalui suatu upacara ZhaoHun atau sekarang sering disebut ChaoDu ??. Perayaan ini biasanya dilakukan dalam periode 1 bulan tersebut, oleh karena itu di Singapura dan manca negara dikenal dengan Gui Jie / Ghost Month (bulan hantu).

Pada tahun sekitar 300 SM yaitu pada masa dinasti Jin, maka terjadi sinkretisme upacara ini dengan Buddhism, dimana berdasarkan kitab Buddha Mahayana Foshuo YuLanPen Jing ?????? (Ulambana Sutra).  Ada sedikit perbedaan kepercayaan tentang konsep karma pada tradisi Buddhism Mahayana dengan Buddhism Theravada, dimana dalam Theravada karma hanyalah bisa ditanggung oleh dirinya sendiri, tetapi dalam Buddhis Mahayana maka orang lain, terutama keluarga, bisa melakukan suatu upaya untuk meringankan karma dari arwah leluhurnya yang telah meninggal dengan gaya bantuan para bodhisatva. Konsep karma dalam Buddhism Mahayana ini berkaitan dengan konsep Taoism yaitu chenfu ??, yaitu bahwa karma dari leluhur akan menurun kepada anak cucunya, seperti pada ungkapan rakyat Tionghoa : “Leluhur berbuat kebajikan maka anak cucu akan makmur”.

Sumber:
Joko Prayitno
http://baltyra.com/2013/06/24/festival-cioko-penghormatan-kepada-leluhur/#ixzz2cmJizeAz