Sejarah Kelenteng Sam Poo Kong

Sejarah Kelenteng Sam Poo Kong

klenteng-sam-poo-kong

Kelenteng Sam Poo Kong yang berlokasi di jalan Simongan Semarang dulunya adalah tempat pendaratan pertama kali Laksamana muslim Cheng Ho dalam rangka ekspedisi ke berbagai negeri untuk melakukan misi perdagangan dan meningkatkan kewibawaan Dinasti Ming. Sejarah mencatat Kelenteng Sam Poo Kong bukan hanya sekedar kelenteng sebagai tempat beribadah warga Tionghoa tetapi dulunya adalah bangunan masjid yang didirikan oleh Cheng Ho dan awak kapalnya.

Mengapa armada ekspedisi Laksamana Cheng Ho mendarat di Semarang? Pada abad ke 15 ketika armada ini berlayar di pantai utara Pulau Jawa, Wang Jing Hong yang bertindak sebagai wakilnya mendadak sakit keras. Dan atas perintah dari Cheng Ho, armada singgah di daerah Pelabuhan Simongan (daerah ini sekarang menjadi permukiman padat).

Setelah mendarat, Cheng Ho dan anak buahnya menemukan sebuah gua. Gua ini kemudian dijadikan tempat peristirahatan sementara sambil mengobati Wang Jing Hong yang sakit. Diluar gua dibangun sebuah pondok kecil termasuk masjid karena awak kapal armada Cheng Ho kebanyakan beragama Islam.

Cheng Ho sendiri yang merebus obat tradisional buat Wang Jing Hong. Setelah kondisi Wang mulai membaik, sepuluh hari kemudian Cheng Ho melanjutkan perjalanannya ke arah Barat dengan meninggalkan sepuluh orang awak kapal untuk menjaga kesehatan Wang. Mereka juga dibekali dengan sebuah kapal dan perbekalan lainnya.

Akan tetapi setelah sembuh dari sakitnya, ternyata Wang Jing Hong menjadi betah tinggal di Semarang. Dipimpinnya ke sepuluh awak kapal itu untuk membuka tanah dan membuat rumah. Kapal yang disediakan untuk menyusul armada ke Samudera Barat dipakai untuk berdagang ke daerah-daerah terdekat di sepanjang pantai Pulau Jawa. Para awak kapal ternyata juga tertarik untuk menetap di Semarang hingga kemudian menikahi wanita-wanita penduduk setempat. Akibatnya kawasan di sekitar gua menjadi ramai dan makmur.

klenteng-sam-poo-kong

Makin hari makin banyak penduduk yang bergabung dan bercocok tanam disana. Sebagaimana Laksamana Cheng Ho, Wang Jing Hong juga seorang muslim yang taat, beliau giat menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat Tionghoa dan penduduk setempat. Serta diajarkannya juga cara-cara bercocok tanam yang baik dan pengetahuan lainnya. Wang Jing Hong meninggal dalam usia 87 tahun dan jenazahnya dimakamkan secara Islam didalam kompleks kelenteng Sam Poo Kong. Atas jasanya Wang Jing Hong diberi julukan sebagai “Kyai Juru Mudi Dampo Awang”

Kelenteng Sam Poo Kong ini dulu terkenal dengan nama Gedung Batu, karena bentuknya merupakan sebuah gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu Simongan. Hampir keseluruhan bangunan kelenteng bernuansa merah khas bangunan Cina. Karena kaburnya sejarah , orang Indonesia keturunan Cina menganggap bangunan itu adalah kelenteng. Padahal kompleks bangunan itu dulunya adalah masjid dan beberapa pondok tempat tinggal awak kapal Laksamana Cheng Ho yang tertinggal.

Sekarang Kelenteng Sam Poo Kong tersebut dijadikan tempat peringatan atau bersembahyang serta tempat berziarah. Untuk keperluan tersebut dibangunlah sebuah altar, serta patung-patung Laksamana Cheng Ho. Padahal Laksamana Cheng Ho adalah pemeluk agama Islam, tetapi oleh mereka dianggap dewa yang harus disembah. Hal ini bisa dimaklumi mengingat Kong Hu Cu menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Kelenteng Sam Poo Kong dijadikan icon sebagai salah satu tujuan wisata di Jawa Tengah khususnya Semarang. Dengan catatan sejarah yang menyertainya sebagai petilasan tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana muslim Tiongkok. Kelenteng Sam Poo Kong berada dibawah naungan Yayasan Kelenteng Sam Poo Kong ini banyak menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Pengunjung juga dapat berfoto dengan pakaian ala prajurit Cina di tempat tersebut.

klenteng-sam-poo-kong

Cukup dengan membayar tiket masuk Rp 3.000 kita akan disuguhi pemandangan kelenteng yang indah, unik dan kaya akan nilai sejarah. Tetapi untuk bisa masuk ke dalam bangunan kelenteng kita harus membayar lagi sebesar Rp 20.000. Selain melihat di dalam kelenteng, di belakang bangunan kelentang terdapat relief yang mengisahkan perjalanan Laksamana Cheng Ho. Kalau ada acara-acara tertentu untuk sembahyangan kelenteng bangunan utama akan ditutup.

Selain melihat keindahan kelenteng, setiap malam Jum’at pengunjung bisa mengunjungi stan ramal meramal menurut budaya Tionghoa. Dan juga dapat mengunjungi pasar rakyat di pelataran Kelenteng Sam Poo Kong yang digelar setiap malam Jum’at.

Sumber: kompasiana.com