Festival Pe Cun, Festival Tahunan Masyarakat Cina Benteng

Festival Pe Cun, Festival Tahunan Masyarakat Cina Benteng

Festival Pe Cun, Festival Tahunan Masyarakat Cina Benteng di Tangerang 

Minggu, tanggal 5 Juni 2011, adalah sebuah momen dan kesempatan yang jarang dapat ditemui di dalam keseharian penulis. Maka dengan senang hati, penulis luangkan waktu untuk melihat sebuah great event yang menjadi agenda tahunan dari masyarakat Cina Benteng, Tangerang, yaitu Festival Pe Cun.

Bersama dengan beberapa rekan kami berangkat dari Depok menuju tempat digelarnya Festival Pe Cun, yaitu di Tangerang. Festival Pe Cun 2011 ini sebenarnya diselenggarakan tiga hari, yaitu tanggal 4-6 Juni 2011 namun kami dari tim riset hanya mendapat kesempatan dan waktu menonton ketika lomba mendayung perahu pada hari Minggu, 5 Juni 2011.

Kami tiba di lokasi Pe Cun 2011 ini memang sudah terlambat dan banyak ketinggalan acara, namun hal tersebut tidak mengurangi rasa antusias kami. Beberapa gambar yang menggambarkan ramainya suasana Lomba Mendayung Perahu Naga.


Lomba perahu naga dari Festival Pe Cun ini berbeda dengan lomba perahu dari festival Cisadane yang diadakan oleh Pemerintah Kota Tangerang. Jika lomba perahu yang ada di Festival Cisadane, jumlah peserta lomba perahu tiap perahunya hanya lima orang saja. Hal tersebut berlaku hanya untuk babak penyisihan, dan nantinya setelah masuk babak final, akan menggunakan perahu naga, di mana bentuk naganya bukan naga Cina, akan tetapi naga Jawa yang bentuknya sangat berbeda dengan naga Cina.

Lomba perahu naga yang ada di Festival Pe Cun 2011 ini, setiap perahu ada 24 orang. Dua puluh orang bertugas mendayung, satu orang menabuh tambur, satu orang menabuh simbal, satu orang sebagai pemberi komando atau aba-aba, dan satu orang lagi sebagai pengemudi. Selain itu di dekat kepala naga, juga diberikan hiasan berupa dua panji.

Panji pertama berupa panji yang ada tulisan Mandarin-nya, sedangkan panji yang kedua adalah bendera merah putih, sebagai lambang atau simbol bahwa masyarakat Tionghoa merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ada sebuah hal yang unik dari lomba perahu naga di Festival Pe Cun ini. Para peserta lomba, setelah berlomba bersembahyang di sebuah topekong kecil, yang letaknya di dekat sungai. Topekong kecil tersebut juga dilengkapi dengan beberapa sesaji, seperti pisang dan lilin berwarna merah. Setelah bersembahyang, para peserta pun beristirahat.

Kami beranjak semakin ke arah selatan, menuju lokasi panggung yang ada di tengah sungai. Namun, sebelum sampai di sana, kami melihat banyak sekali tenda-tenda berwarna putih. Setelah kami cek, ternyata adalah stand-stand berjualan makanan dan minuman bagi para sponsor dan juga para panitia Festival Pe Cun 2011 ini.

Selain stand-stand tersebut, ternyata juga terdapat panggung darat. Ketika kami sampai di dekat panggung, sedang berlangsung karaoke-an bagi para pemenang lomba perahu naga, yang nantinya akan melaju di partai final. Semuanya berjogetan, bergembira ria merayakan kemenangannya. Para pengunjung pun diperkenankan ikut berdendang bersama para peserta dan tentunya para penyanyi-nya.

Setelah membaca ulasan tentang Festival Pe Cun 2011 dari tulisan Pak Aji di Media Indonesia, ternyata sebelum kami datang, di panggung darat tersebut juga telah dipertunjukkan beberapa kesenian yang merupakan kesenian khas dari Cina dan masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat peranakan Tionghoa di Indonesia. Sayangnya kami tidak sempat melihatnya. Beberapa kesenian yang ditampilkan adalah wushu dan barongsai. Wushu merupakan pencak silat atau ilmu bela diri yang berasal dari Cina.

Puas menikmati sajian di panggung darat, kami beranjak ke sekitar panggung sungai, yang letaknya berada di tengah Sungai Cisadane tersebut. Panggung tersebut berbentuk persegi dengan ukuran kurang lebih 10 meter. Di panggung ini pulalah, para moderator memberi semangat bagi para peserta lomba mendayung perahu naga, karena memang titik start-nya berada dekat dengan panggung ini.

Selain itu, di panggung sungai ini juga didendangkan lagu-lagu pula, yang diiringi dengan gambang kromong. Iramanya sangat nikmat didengar. Nyanyian yang dibawakan mirip dengan nyanyian-nyanyian yang dibawakan oleh para pemain di lenong Betawi. Hal ini menunjukkan akulturasi budaya yang terjadi antara masyarakat Tionghoa dan masyarakat Betawi di Nusantara.

Sungai Cisadane, selain sebagai tempat berlangsungnya lomba Perahu Naga, juga digunakan untuk penyewaan perahu yang sangat khas dengan budaya Tionghoa. Perahu-perahu tersebut tentunya jarang atau bahkan tidak akan ditemui dimana pun tempatnya, kecuali di negara Cina atau di event-event semacam Festival Pe Cun ini.

Karena hari sudah cukup sore dan khawatir ketinggalan kereta terakhir, kami pun berniat untuk menyudahi petualangan di Festival Pe Cun 2011. Namun, ternyata pertunjukkan puluhan liong dan barongsai akan segera dimulai. Kami pun mengurungkan niat untuk segera kembali, dan segera menuju tempat akan dimulainya pertunjukkan.

Terlihat puluhan pemuda Tionghoa telah bersiap-siap dengan liong-nya masing-masing. Semuanya begitu bersemangat dan bergairah untuk menyemarakkan Festival Pe Cun 2011 ini dengan memainkan liong¬ dengan sebaik-baiknya.

Liong-liong tersebut rata-rata memiliki panjang hampir 15 hingga 20 meter, dengan kepala naganya yang bervariasi, ada yang berukuran biasa saja, namun juga ada yang kepala naganya berukuran cukup besar.

Tambur pun ditabuh, dan mulailah pertunjukkan liong. Satu per satu ¬liong dibawa maju oleh para pemainnya, berputar-putar, meliuk-liuk di sepanjang jalan menuju panggung darat. Liong-liong tersebut seakan hidup dan memberikan semangatnya kepada para pemain yang ingin menyemarakkan perayaan Festival Pe Cun 2011 kali ini. Luar biasa sekali pertunjukkan liong ini.

Setelah masing-masing liong berada pada posisinya, para pemain liong segera menggerakkan liong dengan gerakan yang teratur dan membentuk posisi-posisi yang unik. Berikut beberapa posisi-posisi liong-liong tersebut.


Kami sangat takjub dengan pertunjukkan liong tersebut, dan mengira ini adalah pertunjukkan terakhir sebelum istirahat dan akan dilanjutkan acara pada malam harinya. Dugaan kami meleset, di belakang liong-liong tadi telah bersiap-siap para pemain barongsai, yang akan mempertunjukkan keahliannya.

Para pemain barongsai rata-rata masih remaja, namun keahlian dan kemahiran dalam bermain tentunya tak akan mau kalah dengan para pemain yang sudah dewasa. Setelah liong-liong menepi, giliran barong sai yang beriringan maju. Para pemain barongsai segera menunjukkan kemahirannya.

(Teks dan Foto:Herman Pamuji & Sartika – tim riset ensiklopedia peranakan Tionghoa)

Festival Pe Cun, Festival Tahunan Masyarakat Cina Benteng di Tangerang 
casino deposit no online promotion free chips no deposit casino online aladdin casino no deposit casino no deposit download cats eye casino no deposit