Masa Lalu-Masa Kini: Jejajah Pecinan Jakarta

Masa Lalu-Masa Kini: Jejajah Pecinan Jakarta

30 Juli 2011, Jelajah budaya peranakan Tionghoa bertema”Jelajah Pecinan Jakarta”, diadakan oleh Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) bekerjasama dengan Love Our Heritage (LOH).

Kegiatan ini merupakan pertama kalinya, kedua organisasi yang peduli dengan pelestarian budaya Indonesia, terutama budaya Tionghoa diadakan secara bersama dengan mengunjungi beberapa tempat bersejarah bagi perkembangan masyarakat Tionghoa yang majemuk.

Kemajemukan masyarakat Tionghoa di Jakarta inilah yang mendorong pemilihan tujuan Jelajah Budaya kali ini, merupakan tempat yang dianggap dapat mewakili hampir semua aspek kehidupan masyarakat Tionghoa pada masa lalu dan masa kini.

Rute perjalanan ini dimulai dari mengunjungi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, Jakarta Barat. Di tempat ini para peserta kegiatan dan panitia bersama mengunjungi Musoleum Khouw Oen Giok atau sering di kenal sebagai O.G.Khouw, yang  merupakan satu-satunya mausoleum yang di miliki Indonesia. Saat ini konservasi mausoleum ini dilakukan oleh Love Our Heritage secara rutin dengan mengadakan kegiatan “Bakti Royong” setiap sebulan sekali.

Musoleum ini memiliki bangunan yang sangat megah, karena semua marmernya di impor langsung dari Italy dan dikerjakan selama 3 tahun dengan biaya f 200 000 (gulden), serta memiliki ruangan bawah tanah yang merupakan tempat penyimpanan jenazah O.G Khouw dan sang isteri, pada masa lalu.

Pada 1980-an, pihak keluarga mengambil jenazah  keduanya dan mengkremasi nya lalu meletakkan kembali di ruang bawah tanah tersebut. Sampai saat ini abu keduanya masih berada di ruangan tersebut, yang saat ini sudah ditutup sepenuhnya dengan marmer putih. Sedangkan potret keduanyasebatas kepala, di ukir pada dinding marmernya.

O.G.Khouw yang meninggal di Ragaz, Swiss, 1 Mei 1927 ini merupakan warga Tionghoa yang kaya raya pada jaman Belanda. Diketahui memiliki tanah dan perkebunan tebu yang luas di daerah Tambun, Bekasi.

Beliau juga merupakan pendiri rumah sakit Jang Seng Ie yang sekarang bernama RS Husada di Mangga Besar,  pemilik bank The Kie Bank di jalan pintu besi, Jakarta Pusat dan pendiri sekolah Tionghoa berbahasa Belanda, Hollandsche Chineesche School (HCS) pertama di Batavia pada 1908. 

Dari mausoleum, peserta juga diajak untuk mengunjungi  beberapa makam penting di sekitar TPU Petamburan seperti rumah penyimpanan abu para tentara Jepang, makam orang Jepang dan pemakaman orang Yahudi. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa bahkan pada jaman dahulu, orang Tionghoa tidak bersikap ekslusif dengan memilih pekuburan tersendiri, tapi bercampur dengan etnik lainnya.

Setelah berkeliling TPU Petamburan, peserta diajak untuk mengunjungi kawasan tempat tinggal peranakan Tionghoa di daerah Pinangsia Patekoan dan Perniagaan.

Di Pinangsia, tepat seberang stasiun Beos, Kota, peserta mengunjungi Yayasan setia Dharma Marga yang merupakan klenteng yang telah berusia lebih dari seratus tahun.

Di tempat ini menariknya masih tersimpan ratusan papan peringatan orang-orang yang sudah meninggal dari beberapa warga, yang dikenal sebagai Shen Zhu Pai (Shen:alam roh, zhu: majikan/pemilik dan pai:peringatan/pengenal) , berisi informasi tentang nama marga, jumlah anak dan nama-namanya serta tahun meninggal orang yang telah meninggal.

Setelah itu, peserta di ajak untuk menikmati kuliner khas Tionghoa di tempat yang bernama Gloria. Sebuah tempat yang telah menjadi tujuan wisata kuliner ketika kita mengunjungi daerah Glodok atau Pancoran. Berbagai makanan khas Tionghoa dapat di temukan di sini seperti Lo Mie, Ngo Hiang, Mie Kangkung, dll.


Dari Gloria peserta di ajak ke Lu Pan Bio, sebuah klenteng yang dikenal sebagai klenteng tukang kayu, karena dewa pada klenteng ini adalah Lu Pan, dewa nya para tukang kayu dan mebel. Klenteng ini di dirikan pada 1860 oleh masyarakat Tionghoa yang mengembangkan usahanya di bidang perkayuan dan pembangunan kapal di Jakarta.

Tujuan berikutnya dari perjalanan ini Klenteng Tan Seng Ong atau sering disebut dengan Vihara Tanda Bhakti. Klenteng ini di bangun pada 1650 oleh perkumpulan marga Tan di Indonesia, memiliki  dewa utamanya Tan Seng Ong. Menariknya dari bangunan klenteng ini yaitu masih mengikuti gaya bangunan Cina yang memiliki court yard di belakang bangunan utama.


Perjalanan di lanjutkan dengan menyusuri jalan Patekoan. Disebut jalan Patekoan karena pada masa lalu seorang nyonya rumah keluarga Souw sering menyiapkan air dengan delapan tempat air (pa = delapan, teko = tempat air) di depan rumahnya untuk para pesinggah yang lewat di depan rumahnya. 
Sampai sekarang rumah kediaman keluarga Souw masih dapat dilihat dengan bangunan asli memiliki atap berbentuk ekor wallet, yang melambangkan bahwa pemilik rumah memiliki kedudukan sosial yang tinggi dalam masyarakat saat itu.


Selain rumah keluarga Souw, di Patekoan, peserta juga dapat melihat bangunan bekas sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), sebuah perkumpulan masyarakat Tionghoa yang berdiri pada 1900, bertujuan mendorong orang Tionghoa yang bermukim di Jakarta untuk mengenal identitasnya.

Sementara sekolah tersebut berdiri pada 1901 dan merupakan sekolah modern pertama di Indonesia (Hindia Belanda sebutannya pada saat itu). Sekolah THHK ini sering disebut Pa Hua pada perkembangannya dan ketika peristiwa 30 September 1965, Pa Hua ditutup oleh pemerintah orde baru dan diambil alih untuk dijadikan SMA Negeri 19 (Cap Kau).

Satu bangunan yang juga menarik di Patekoan ini yaitu Klenteng Kwan Tee Bio atau vihara Arya Marga atau Lamceng Tee Koan yang terletak di gang bernama Lam Ceng. Di Klenteng ini, peserta dapat melihat altar kapitan The Liong Hui yang berasal dari Nanjing, Fujian, yang pada 1824 membangun klenteng ini untuk menghormati dewa perang Kwan Kong. Di bagian depan klenteng, terdapat patung kuda Kwan Kong yang dikeramatkan.


Dari Patekoan, peserta kembali menyusuri jalan menuju ke SMP Negeri 32, yang terletak di jalan Pejagalan. SMP ini dahulunya merupakan penginapan bergaya Cina, di bangun 1880 di tepi kali Krukut, tempat berlabuhnya kapal-kapal pedagang pada masa lalu.

Pada awal abad ke-20 bangunan ini difungsikan sebagai sekolah dan masih mempertahankan bangunan khas Cina di bagian belakangnya walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, karena sudah banyak atapnya yang ambruk, bocor di sana sini dan kayu-kayu jati yang sudah banyak hilang sehingga hanya menyisakan bangunan lantai bawah yang digunakan sebagai musholla.

Setelah menyusuri Patekoan dan Pejagalan, peserta pun diajak untuk menyusuri  gang diantara pemukiman penduduk yang disebut pasar Gelap di daerah Perniagaan, yang merupakan  tempat transaksi candu pada masa lalu.  Kemudian juga melewati daerah bernama pintu kecil, yang merupakan pintu benteng Belanda pada masa lalu, sebagai pembatas antara Belanda dan pemukiman orang Tionghoa, sekaligus juga merupakan tujuan akhir dari perjalanan.

Kegiatan ini diikuti sekitar 70-an orang peserta dari berbagai kalangan usia dan etnik, bukan hanya etnik Tionghoa saja.


(Diyah Wara)

 

The writer teaches in the graduate programs of the University of Indonesia School of Social and Political Sciences, Department of Communications, and the Letters Department at the School of Humanities. She can be reached at canting@hotmail.com.
casino deposit needed new no casino code deposit new no casino deposit 1 get 20 account by casino checking deposit desert dollar casino no deposit