Wayang Potehi

Wayang Potehi

Wayang Potehi

Tahukah anda Wayang Potehi?

Bagi yang belum tahu, semoga tulisan ini mencerahkan dan menambah khasanah pengetahuan akan kebudayaan Indonesia. Bagi yang sudah tahu atau pernah tahu, semoga tulisan ini dapat membawa kembali kenangan kita di masa kecil di suatu masa di suatu tempat di mana kita pernah menontonnya.

Namanya saja Wayang Potehi, terlihat jelas dari 2 kata yaitu ‘wayang’ dan ‘potehi’ dan jelas juga dari kata bahasa Indonesia dan serapan kata dari dialek Hokkian, kata ‘potehi’. Kata wayang sendiri dipercaya bukan kata murni bahasa Indonesia atau Melayu, tapi merupakan serapan dari bahasa Jawa atau Sansekerta yang artinya kurang lebih bayangan. Walaupun dalam penerapan dan konteks ‘wayang potehi’ sangat jauh dari ‘bayangan’. Sementara kata potehi sendiri diserap dari dialek (bukan bahasa) Hokkian ‘poo’, kemudian ‘tay’ dan ‘hie’.

Tepatnya, dalam bahasa Mandarin adalah dari kata bu dai xi dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Glove Puppetry. Nama lainnya antara lain adalah: budai mu’ouxi, shoucao kuileixi, shoudai kuileixi, xiaolong, atau zhihuaxi.

Jadi kurang lebih, arti kata potehi itu sendiri, adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tsb dan memainkannya seperti layaknya wayang jenis lain. Kesenian ini sudah berumur lebih dari 3.000 tahun dan berasal dari China.

Tapi jejak awal yang tercatat adalah yang dari abad 17, berasal dari provinsi Fujian, yaitu di Quanzhou, Zhangzhou. Selain di 2 daerah itu, banyak juga dimainkan di provinsi Guangdong, dan ditemukan juga di Chaoshan, Taiwan.

potehi-taiwan-011

potehi-taiwan-02

Sementara dari sumber lain, mengutip dari Wikipedia dan saya memberanikan diri untuk melakukan koreksi ejaan di sana sini:

[Quote] Menurut legenda, seni wayang ini ditemukan oleh pesakitan di sebuah penjara. Lima orang dijatuhi hukuman mati. Empat orang langsung bersedih, tapi orang kelima punya ide cemerlang. Ketimbang bersedih menunggu ajal, lebih baik menghibur diri.

Maka, lima orang ini mengambil perkakas yang ada di sel seperti panci dan piring dan mulai menabuhnya sebagai pengiring permainan wayang mereka. Bunyi sedap yang keluar dari tetabuhan darurat ini terdengar juga oleh kaisar, yang akhirnya memberi pengampunan.

Diperkirakan jenis kesenian ini sudah ada pada masa Dinasti Qin yaitu pada abad ke 3-5 Masehi dan berkembang pada Dinasti Song di abad 10-13 M. Wayang Potehi masuk ke Indonesia melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke Indonesia di sekitar abad 16 sampai 19. Bukan sekedar seni pertunjukan, Wayang Potehi bagi keturunan Tionghoa memiliki fungsi sosial serta ritual. Tidak berbeda dengan wayang-wayang lain di Indonesia. [Unquote].

Wayang Potehi ini menurut analisa saya berkembang pesat di pesisir utara Pulau Jawa, melihat di mana perkembangan komunitas Tionghoa yang jejaknya masih ada sampai sekarang. Dapat dimengerti bahwa interaksi pertama antara orang-orang China yang datang langsung dari Daratan China, akan mencari pelabuhan-pelabuhan untuk tempat bersandar kapal-kapal dagang mereka.

Dimulai dari Serang, Cirebon, Tegal, Lasem, Pekalongan, Semarang, Welahan, Rembang, Pasuruan, Tuban, kota-kota strategis pelabuhan masa lalu, sampai hari ini masih banyak sekali ditemui peninggalan sejarah dari masa itu, yaitu kelenteng-kelenteng yang tersebar di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa.

Foto 1 – 3: Wayang Potehi dalam berbagai pose

potehi-01

potehi-02

potehi-03

Interaksi penduduk asli dan pendatang berlangsung mulus, terutama dengan cara perkawinan, beranak pinak, turun temurun sampai dengan sekarang ini. Dan uniknya, kelenteng-kelenteng di seluruh pesisir utara Pulau Jawa menyembah dewa atau dewi yang sama, terutama dewi, yaitu dewi yang berhubungan dengan laut, sesuai mata pencaharian penduduk pesisir dari dulu sampai sekarang, yaitu melaut untuk mencari ikan.

Wayang potehi pada masa keemasannya di awal-awal kemerdekaan republik ini, akan berpentas jika ada acara-acara khusus, termasuk acara-acara dari penduduk asli setempat. Pesta perkawinan, tahun baru, Imlek, dsb.

Lakon Wayang Potehi

Di masa-masa awal masuknya Wayang Potehi ke Indonesia, sampai dengan berkembang di awal abad 20, lakon yang dibawakan kebanyakan masih ‘asli’ dari negeri China. Lakon yang umum adalah Sie Djin Kui (Ceng Tang dan Ceng See), ini adalah kisah peperangan 2 negara, di mana salah satu negara dipimpin oleh seorang jenderal yang konon punya peliharaan tak kasat mata, seekor harimau putih, sehingga dia ini sakti mandraguna dan ditakuti lawan-lawannya.

Sub-judul Ceng Tang dan Ceng See adalah menunjukkan episode peperangan. Ironisnya, Sang Jenderal ini mati dibunuh oleh putranya sendiri Sie Teng Shan. Cerita lengkapnya saya terus terang sudah samar-samar sekali.

Masih ada juga lelakon Poei Si Giok alias Fang She Yu yang pernah dimainkan oleh Jet Li beberapa tahun lalu. Poei Si Giok dan Sie Djin Kui ini adalah 2 contoh lelakon klasik yang wajib dipentaskan dalam pementasan wayang potehi.

Di masa-masa awalnya, pementasan sudah dilakukan dalam bahasa Indonesia, walaupun beberapa percakapan, tembang dan sajak masih dibawakan dalam dialek Hokkian, yang dianggap ‘bahasa aslinya’, dan kebanyakan dipentaskan di halaman kelenteng-kelenteng yang tersebar di kota-kota di sepanjang pesisir utara Jawa.

Foto 4 – 6: Lakon Wayang Potehi

lakon-potehi-01

lakon-potehi-02

lakon-potehi-03

Seiring dengan berjalannya waktu, lakon yang dipentaskan mulai melebar ke arah yang lebih modern seperti Sun Go Kong, Legenda Kera Sakti. Dan juga mulai berasimilasi dengan budaya setempat, termasuk bahasa setempat yaitu bahasa Jawa.

Alat musik pengiring utama adalah tambur, kendang, suling, kecer dan rebab. Kombinasi harmonis dari alat-alat musik ini menimbulkan perasaan tersendiri di hati, yang sekarang ini berusaha saya gali berdasarkan ingatan masa kecil saya, di mana sering Papa saya mengajak saya untuk menonton pertunjukan wayang potehi di Kelenteng Grajen Semarang di Jl. Grajen yang masuk dari Jl. Mataram. Saya sendiri sampai hari ini juga tidak mengetahui adanya alasan khusus kenapa pementasan wayang potehi yang paling sering adalah di Kelenteng Grajen.

Yang saya tahu belakangan, dan juga berdasarkan cerita Papa, kelenteng-kelenteng di Tegal, Lasem, Welahan (dekat Rembang), kemudian Tuban, juga banyak sekali mementaskan pertunjukan wayang potehi ini pada masanya.

Lelakon wayang potehi ternyata ada yang diadopsi ke dalam cerita Indonesia, yaitu ke dalam lelakon ketoprak. Tokoh Sie Djin Kui diadopsi menjadi Joko Sudiro, atau tokoh Prabu Lisan Puro yang diambil dari tokoh Lie Sie Bin, salah satu cerita kuno dari China.

Seiring perjalanan waktu, pementasan wayang potehi juga bercampur dengan selipan sana sini bahasa Jawa. Dan para dalang wayang potehi yang keturunan Tionghoa juga makin berkurang, makin ditinggalkan, tapi justru para dalang yang penduduk asli makin banyak.

Sekarang ini walaupun wayang potehi tidak punah, tapi bisa dikatakan statusnya mati tidak, hidup pun enggan. Masa kejayaan wayang potehi sudah berlalu, terjadi hibernasi yang panjang sekali. Bisakah bangun kembali?

Only time will tell…..

Foto 7: Kelenteng Gang Lombok (1771 – sekarang)

taykaksie

Foto 8: Kelenteng Grajen (1905 – sekarang)

kelenteng-grajen

Oleh : Aji Bromokusumo
Sumber: Baltyra.com

casino free no deposit chips casino 25 euro no deposit ruby red casino no deposit casino deposit no online vegas casino deposit no required sign up