Menyusuri Jejak Peranakan Tionghoa Jakarta (Part-2)

Menyusuri Jejak Peranakan Tionghoa Jakarta (Part-2)

Menyusuri Jejak Peranakan Tionghoa Jakarta (Part-2)

Perjalanan menyusuri jejak peranakan Tionghoa Jakarta dilanjutkan kembali pada Sabtu ini (16 Juli 2011). Kali ini kami kembali bertiga berjalan tepat sebelum makan siang, menuju kawasan Lautze, Jakarta Pusat. Kawasan ini kurang terkenal bila di bandingkan dengan Glodok, sebagai Pecinan.
 
Namun ternyata kawasan ini sudah dari sejak dahulu didiami oleh masyarakat peranakan Tionghoa di Jakarta. Bahkan menurut catatan sejarah masyarakat peranakan Tionghoa lah yang banyak membangun kawasan ini terutama karena kawasan ini tidak terlalu jauh dari Pasar Baru, sebagai salah satu pusat perdagangan orang peranakan Tionghoa.

Tiba di di kawasan Lautze, kami langsung menuju ke mesjid Lautze, yang terkenal sebagai salah satu bangunan mesjid yang menjadi pusat bagi orang Tionghoa Muslim. Mesjid ini didirikan oleh H.Karim Oey, Tionghoa mualaf yang juga merupakan tokoh penyebaran Islam di kawasan Lautze. Sayangnya ketika kami tiba, mesjid ini tutup.


Kami pun menikmati mie ayam yang berada di depan mesjid, yang dijual oleh koh A Hui, seorang Tionghoa mualaf sebagai makan siang kami. Mie ayam ini rasanya enak dan halal, benar-benar khas mie ayam orang Tionghoa tanpa memakai minyak atau daging babi. Selain mie ayam, koh A Hui juga menyediakan kuetiau.

Kami perhatikan ketika ada pembeli mie ternyata mie ayam sudah habis, ternyata mie ayam yang kami konsumsi merupakan mie ayam terakhir dari persediaan dagangan koh A Hui. Beruntunglah kami masih bisa merasakan mie ayam yang pernah masuk ke sebuah majalah ini. Kami merekomendasikan siapapun yang mengunjungi mesjid Lautze, tidak afdol rasanya apabila tidak mencoba mie ayam koh A Hui ini.

Kemudian kami berjalan menyusuri Lautze, memasuki Gang Tepekong, karena banyaknya bangunan klenteng/topekong di gang ini. Kami pertama-tama mengunjungi klenteng Wan Jie Si atau disebut juga Vihara Buddhayana. Bangunan klenteng berasitektur Eropa (art deco) ini dahulu merupakan rumah peristirahatan (mansion) Fredrik Julius Coyet yang didirikan pada 1736. Pemilik mansion kemudian menghiasi rumah dengan beberapa patung Buddha dan Hindu yang diperoleh sebagai hadiah.

Patung-patung tersebut masih bisa dilihat sampai sekarang dalam altar yang dilapisi kaca. Sejak Coyet meninggal, mansion ini diurus oleh isterinya Ny.G.M.Goosens dan pada 1753 menjualnya. Dari berita masa lalu, mansion dimiliki oleh Gubernur Jendral Jacob Mossel pada 1761, berpindah tangan ke Simon Josephe dan menjualnya pada kapitan Tionghoa Lim Tjipko. Pada 1880, rumah ini dimiliki Gong-guan (dewan orang Tionghoa) dan dijadikan klenteng sampai saat ini.
 
Altar utama di klenteng ini terdapat patung dewa Thit Cong dalam posisi duduk dengan tangan posisi bersemedi didepan dada dan sebuah bola ditelapak tangan, patung dewi Kuan Im, dalam posisi duduk diatas teratai dan patung dewa Uh Fang dalam posisi duduk dengan kaki kiri ditekuk. Kami tidak lama berada di klenteng ini, hanya pai pai (melakukan hormat) pada dewa utama karena pengambilan gambar tidak diperbolehkan sama sekali di klenteng ini.   

Dari klenteng Wan Jie Sie, kami pun melanjutkan perjalanan ke sebuah vihara Buddha yang letaknya tidak jauh. Vihara Buddha ini memiliki ornamen indah dominan warna emas, bernama Mahavira Graha. Ketika kami masuk ke vihara ini, kami hanya melihat sebuah patung Buddha besar setinggi hampir 3 meter berwarna emas.

Kami tidak bisa memastikan ukuran patung Buddha tersebut dan mengetahui informasi lebih lanjut mengenai vihara ini, karena tidak ada satu orang pengurus Vihara yang bisa kami tanyakan. Hanya terlihat seorang bikkhuni (bikkhu perempuan) yang sedang sibuk menerima telpon. Setelah berfoto-foto sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Baru sambil berjalan ke arah pulang.
 
Pasar Baru, selama ini dikenal sebagai pusat kain pedagang India. Sebetulnya orang Tionghoa-lah yang banyak membangun kawasan ini. Dilihat dari bentuknya, kawasan ini terlihat seperti kelabang dari atas. Konon, dahulu para pedagang Tionghoa sering merugi ketika awal-awal berdagang di kawasan ini.

Ketika diketahui kawasan ini bentuknya seperti kelabang, dan didekat kawasan ini terdapat sebuah gereja Belanda dengan simbol ayam (disebut Gereja Ayam), orang Tionghoa percaya keberadaan si ’ayam’ telah membuat ’kelabang’ mati. Akhirnya di cari pemecahan masalahnya yaitu dengan mendatangkan ’musuh’ si ’ayam’ yaitu Elang.

Karena itu dibangunlah patung Elang di salah satu persimpangan jalan di Pasar Baru. Dan percaya tidak percaya, setelah itu perdagangan orang Tionghoa pun berjalan lancar di kawasan ini. Patung Elang ini masih bisa terlihat di atas salah satu toko milik orang Tionghoa sampai saat ini.

Di Pasar Baru ini, kami melihat sebuah rumah lama Tionghoa yang dijadikan sebuah toko, bernama Toko Kompak. Menurut cerita salah seorang teman kami, toko ini dahulu merupakan bangunan rumah seorang pejabat Tionghoa pada masa kolonial, entah kapitan atau letnan. Ukiran khas Tionghoa di atap rumah, pintu masuk dengan gagang besi yang besar dan terbuat dari kayu menunjukkan bahwa pemilik rumah bukanlah orang sembarangan.

Ketika kami masuk ke dalam toko, kami dapat melihat ukiran yang indah di pagar pembatas ruang atas dan courtyard di belakang rumah. Kami membayangkan kemegahan rumah tersebut pada masa lalu, seperti melihat rumah-rumah di film-film kungfu. Sayangnya rumah tersebut sekarang tidak terurus dan dijadikan toko.  

Di akhir perjalanan, kami makan malam di restoran Tropik, sebuah restoran lama dengan arsitektur yang mengingatkan pada film-film nya Jacky Chan dan Bruce Lee. Menu di restoran tersebut adalah menu peranakan Tionghoa seperti puyunghai, lo mi dan lain-lain. Dahulunya bangunan ini adalah miliki seorang Tionghoa kaya di Pasar Baru bernama Tio Tek Hong.

Perjalanan kami menyusuri jejak Peranakan Tionghoa di kawasan Lautze pun berakhir. Kami bertiga pulang dengan penuh kegembiraan karena masih mendapatkan kesempatan melihat bangunan-bangunan penting dan bersejarah bagi orang Tionghoa di Jakarta. Semangat dan antusiasi kami untuk terus melestarikan bangunan bersejarah orang Tionghoa dan budaya orang Tionghoa, membuat kami pun berencana akan mengadakan perjalanan kembali di lain waktu.  

(Diyah Wara)

   

royal vegas casino no deposit codes top 10 no deposit casino casino deposit zero new party city casino no deposit codes goldstream casino no deposit