Berburu Silsilah Keluarga Tionghoa di Beberapa Daerah Pulau Jawa

Berburu Silsilah Keluarga Tionghoa di Beberapa Daerah Pulau Jawa

Berburu Silsilah Keluarga Tionghoa di Beberapa Daerah Pulau Jawa

Pada 17 Mei 2011, Universitas Maranatha, Bandung, menyelenggarakan diskusi dengan judul “Berburu Silsilah Keluarga Tionghoa di Beberapa Daerah Pulau Jawa.” Narasumber diskusi ini yaitu Steve Haryono, seorang peranakan Tionghoa Cirebon, bermarga Yeo.

Bermula dari menyelusuri silsilah keluarga nya, bapak Steve Haryono atau Yeo Tjong Hian yang bermukim di Belanda ini kemudian mendapati kemungkinan bahwa karena tidaktahuan silsilah keluarga di keluarga Tionghoa yang tinggal di Indonesia, akan terjadi pernikahan antar saudara.

Penyelusuran silsilah keluarga sendiri berawal dari permintaan ayahnya pada 1980, ketika keluarga mereka pindah ke Belanda, untuk melestarikan silsilah keluarga demi kepentingan generasi mendatang.

Dari penelusuran ini diketahui bahwa ibunya bermarga Thé (Zheng), yang merupakan salah satu keluarga terpandang di Jawa, bahkan beberapa keluarganya menjadi pegawai pemerintahan di 1848 bersama keluarga Tan, Kwee dan Oey.  

Selama 20 tahun, penyelusuran silsilah keluarga nya tidak berkembang sampai akhirnya di 2003, salah seorang sepupunya bernama Gan Kong Siang dari Pekalongan menulis padanya untuk melengkapi silsilah keluarga nya. Hubungan kelurga Yeo dengan keluarga Gan terjadi pada generasi ke-enam, ketika nenek buyut dari bapak Steve merupakan keluarga Gan dari Pekalongan.

2004, Gan Kong Siang sudah melengkapi silsilah keluarganya di bantu oleh bapak Steve dan dipublikasikan. Buku tersebut memuat 800 halaman penuh dengan foto, dan lebih dari 7500 laki-laki dan perempuan anggota keluarga sampai ke generasi ke sepuluh.

Dari penelitian bersama Gan Kong Siang inilah, bapak Steve dipertemukan dengan anggota keluarga yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Salah satunya yaitu Peter Oey Kok Khioe, keturunan dari keluarga Khouw di Batang, sebuah kota kecil berjarak 15 km di timur Pekalongan. Beliau telah melengkapi silsilah keluarganya baik dari pihak ayah maupun ibu sehingga menghasilkan silsilah keluarga yang lengkap untuk menghubungkan antara keluarga Gan, Khouw dan Thé. 

Di kesempatan diskusi ini, bapak Steve juga memberi dorongan bagi siapapun orang Tionghoa yang ingin menyelusuri silsilah keluarganya sehingga sedikit demi sedikit sejarah keluarga ‘tua’ Tionghoa dapat terungkap terutama bagi keturunan-keturunan para pejabat atau orang berpengaruh tempo dulu.

Beliau menyarankan untuk ‘rajin’ bertanya pada kerabat yang masih ada dan menyelusuri makam-makam tua keluarga terutama yang masih berbahasa Mandarin sebagai sumber data awal dari penelusuran silsilah keluarga.

Diskusi yang berjalan santai ini sebetulnya memiliki tema yang menarik, namun sayangya hanya dihadiri oleh sedikit orang, bahkan generasi muda Tionghoa hanya terlihat sekitar 5 orang-an. Menurut bapak Steve, menyelusuri silsilah keluarga memang bukan hal yang menarik dan penting bagi orang Tionghoa, terutama apabila ada peristiwa-peristiwa yang buruk atau mencoreng kehormatan dan nama baik keluarga, maka para keluarga Tionghoa cenderung menutup rapat-rapat sejarah keluarganya bahkan silsilah keluarganya.

Bapak Steve mengatakan pada seorang teman yang hadir, penelusuran silsilah keluarga menjadi hal yang penting ketika soal identitas Tionghoa dipertanyakan. Terutama bagi para peranakan Tionghoa yang sudah kawin campur dengan etnik lainnya. Identitas menjadi Tionghoa atau bukan Tionghoa menjadi suatu pilihan bagi generasi sekarang.

(Diyah Wara)

casino chip deposit free no casino deposit free list money liberty slots casino no deposit casino deposit download flash no no required