Silang Budaya Tiongkok Indonesia Karya Prof. Kong Yuanzhi

Silang Budaya Tiongkok Indonesia Karya Prof. Kong Yuanzhi

Silang Budaya Tiongkok Indonesia yang ditulis oleh Prof. Kong Yuanzhi merupakan sebuah buku yang membahas tentang hubungan dua Negara, Tiongkok dan Indonesia dalam berbagai bidang kebudayaan yang telah berlangsung sejak lama. Buku in imembahas tentang hubungan asal-usul Bangsa Tionghoa dan bangsa Indonesia, Agama, Sastra, Bahasa, Kesenian, Olahraga, Bangunan, Kedokteran, Teknik Produksi, Alat-alat keperluan hidup, Adat-istiadat, hubungan kerjasama, dan yang terakhir tentang ciri-ciri, arti penting, serta prospek hubungan kebudayaan Tiongkok-Indonesia.

BAB I: Hubungan asal-usul bangsa Tionghoa dan Indonesia
Dalam bab ini dibahas tentang manusia tertua di kepulauan di Nusantara, persebaran orang Melayu pra-sejarah, dan jalur yang digunakan untuk persebaran orang Melayu pra-sejarah. Kemungkinan besar bahwa bagian utama bangsa Indonesia berasal dari selatan Asia, bukan mustahil daerah sekitar Yunnan, Tiongkok barat daya, merupakan salah satu tempat bertolak bagi orang Melayu purba yang menyebar dalam jumlah besar ke selatan, sampai ke Indonesia. Sehingga terjalinlah hubungan darah antara Tionghoa dan Indonesia.

BAB II: Agama
Agama pertama yang dibawa adalah agama Buddha. Banyak bikkhu yang singgah di Indonesia dan menyebarkan ajarannya sebelum para bikkhu tersebut belajar ke India, begitupun sebaliknya saat para bikkhu ingin kembali keTiongkok dari India, mereka akan singgah di Indonesia dahulu. Setelah Buddha muncul ajaran Taoisme yang berkembang saat kerajaan Sriwijaya. Tidak ketinggalan ajaran konghucu muncul dan banyak dianut oleh orang Tionghoa. Saat ini, orang Tionghoa di Indonesia banyak yang menganut ketiga ajaran tersebut (Sam Kauw) atau Tridharma. Mereka memeluk ketiga ajaran tersebut dan membawa kebudayaan tradisional Tionghoa ke Indonesia. Sampai pada akhirnya muncul ajaran Islam yang dibawa oleh sejumlah muslim Tionghoa pada dinasti  Yuan yang mengungsi besar-besaran ke Indonesia.  Banyak muslim Tionghoa yang menyebarkan ajaran Islam ke Indonesia, tapi yang paling berperan adalah Zheng He atau laksamana Cheng Ho. Adapun penganut Katolik dan Kristen Tionghoa akan terus berkembang dan pada mulanya di saat terjadi G30S karena banyaknya bantuan dari Barat dangan cara menyebarkan ajaran tersebut pada kalangan orang Tionghoa.

BAB III: Sastra
Dalam bab ini berisi tentang sejarah, ciri-ciri, dan contoh sastra peranakan Tionghoa Indonesia. Sastra peranakan telah memperkaya sastra Indonesia modern, hal ini terlihat dimana banyaknya karya sastra asli Tionghoa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Contoh: cerita Sam Pek EngTay.

BAB IV:  Bahasa
Membahas tentang Bahasa  Kunlun dalam sejarah perkembangan bahasa Melayu, adanya peminjaman bahasa Melayu keTionghoaan ataupun sebaliknya, dan munculnya bahasa Tionghoa-Melayu.

BAB V: Kesenian, Olahraga, Bangunan.
Membahas tentang musik, misalnya gambang kromong dan kesenian wayang potehi yang merupakan kesenian dari peranakan tionghoa dalam pertunjukan drama Lenong yang menggunakan alat musik rebab Huqin atau dalam kethoprak menggunakan lakon Si Jin Kui yang diubah menjadi lakon Jawa menjadi Sudiroprono.
Berkembangnya olahraga Wushu, Qikung, Kungfu di Indonesia dan menceritakan beberapa guru silat dari Tionghoa.
Arsitektur, ukiran, seni lukis yang memiliki cirri khas tionghoa tampak pada bangunan Klenteng, ataupun masjid (contoh: masjid Mantingan)

BAB VI: Kedokteran dan Teknik Produksi
Membahas tentang pertukaran di bidang kedokteran, obat-obatan. Di bidang teknik produksi, dan penambangan, orang Tionghoa yang mengajarkan kepada penduduk Kalimantan teknik penambangan dan pembuatan alat-alat dari logam.
Dalam bidang bertani orang Tionghoa mengajarkan teknik pelukuan tanah karena orang Tionghoa di Indonesia kebanyakan bertani dan bertanam sayur, pembuatan teh yang diajarkan oleh orang Tionghoa. Berkembangnya pelabuhan Bagan Siapiapi terkait erat dengan masyarakat Tionghoa yang ikut mengembangkan pelabuhan Bagansiapiapi sebagai perdagangan ikan terbesar di Indonesia.

BAB VII: Alat-alat keperluan hidup dan Adat-Istiadat
Membahas tentang penyebaran tembikar dan keramik asli dari Tiongkok di Indonesia. Di dalam bab ini juga membahas tentang masakan hasil akulturasi antara Tiongkok dan Indonesia. Yang terakhir adalah adat-istiadat, masyarakat peranakan di Indonesia menggabungkan adat-istiadat yang ada di Tiongkok dan Indonesia contohnya di saat upacara pemakaman.

(Reza Agung P - Tim Riset Ensiklopedia Peranakan Tionghoa di Nusantara)

casino code coupon deposit free no online casinos with free cash no deposit casino no deposit free spins casino first deposit free no deposit casino coupon codes vip lounge