Memoar Ang Yan Goan (Yayasan Nabil – Hasta Mitra)

Memoar Ang Yan Goan (Yayasan Nabil – Hasta Mitra)

Memoar Ang Yan Goan (Yayasan Nabil – Hasta Mitra)

Banyak orang yang tidak mengenal tokoh ini, Ang Yang Goan, meskipun sesungguhnya jasanya sangat besar dalam dunia pendidikan, kesehatan dan jurnalistik nusantara.

Semasa hidupnya, Ang Yang Goan banyak berfokus pada pendidikan dengan menjadi pengajar dan aktif dalam kepengurusan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Dan pada masa kemerdekaan, Ang Yang Goan aktif pada kepengurusan perguruan tinggi Res Publica, yang sekarang bernama Universitas Trisakti. 

Selain itu Ang Yang Goan juga menaruh perhatian pada kesehatan dan mendirikan rumah sakit Jang Se Ie atau sekarang di sebut sebagai rumah sakit Husada. Sedangkan pada dunia jurnalistik, Ang Yang Goan lah yang mengembangkan Koran Sin Po dan Pantjawarta yang dikenal oleh banyak masyarakat peranakan masa itu. Kemudian di masa kemerdekaan, bersama Soekarno, Ang Yang Goan membidani Warta Bhakti.

Ang Yang Goan juga pendukung integrasi para keturunan Tiongkok yang ada di Indonesia menjadi Indonesia dan menyalurkan aspirasi politiknya pada organisasi bernama Baperki.

Sepanjang hidupnya, Ang Yan Goan sangat bangga dan mencintai Republik Indonesia, sehingga memilih menjadi WNI. Namun peristiwa 1965 telah menghapusnya dari sejarah pergerakan masyarakat Indonesia, Ang Yan Goan pun harus rela meninggalkan negara yang dicintainya menuju Canada. Dan disanalah Yang Goan menghabiskan hidupnya sampai meninggal dunia.

Buku ini merupakan memoir Ang Yan Goan,berdasarkan ingatan-ingatannya pada masa tua. Dengan adanya buku ini diharapkan para generasi muda Tionghoa dapat terinspirasi, dan terilhami untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi bangsanya dan negaranya.

Buku ini harus di baca oleh generasi muda, sehingga tidak melupakan sejarahnya dan jasa para tokohnya dalam membangun bangsa dan negara. Dengan buku ini, kita bisa mempelajari bahwa peranan penting orang Tionghoa dalam kemajuan dan pencerdasan bangsa telah terjadi jauh sebelum ide kemerdekaan dan pembentukan negara kesatuan Indonesia.

Bahwa upaya pencerdasan dan penyehatan bangsa harus dilakukan, sehingga bangsa Hindia Belanda, terutama Tionghoa pada saat itu, dapat berdiri sejajar dengan kaum kulit putih. (Diyah)   


 

 

buying viagra online in the uk best no deposit mobile casino 25 casino deposit minimum online free casino money no deposit canada mac online casino no deposit bonos casino sin deposito espaa