Terdengar asing? Ikan camcoan adalah salah satu kekayaan kuliner Tionghoa Peranakan. Kuliner ini adalah masakan rumahan, hampir tidak mungkin ditemukan di restoran, baik yang resto kecil atau besar di mana saja. Mungkin saja ada, tapi sangat jarang, apalagi sekarang ini.

Hidangan ini sering disajikan di meja makan kami berpuluh tahun lalu di Semarang. Beberapa waktu lalu, mendadak ingatan ini melayang ke masakan ini setelah melihat tulisan “Cuan-cuan Blanak” di kaca display di Waroeng Eddi waktu meliput di sana.

Segera aku konfirmasi ke si Eddi, dan ternyata benar masakan yang ditulis di situ sama dengan masakan yang di keluarga kami dinamakan camcoan. Asal kata dari mana, entahlah…sedari dulu ya demikian menyebutnya…haha… Kecurigaan kuat bahwa kata itu berasal dari dialek Hokkian.

Olahan ikan ini sangat sederhana, gampang sekali, praktis dan enak!

Bahan:

 

Cara memasak:

Beberapa orang lebih senang ikan yang digunakan adalah ikan belanak. Tapi karena belanak tidak mudah didapat, terutama di daerah Serpong sini, maka aku ganti dengan ikan gurame, dengan pertimbangan, daging yang tebal, duri ikan yang besar jadi mudah untuk disisihkan, memudahkan anak-anak kami dan juga resiko duri ikan tertelan juga lebih kecil.

Di Waroeng Eddi dan juga dari ngobrol dengan Peony, mereka lebih suka menggunakan ikan belanak dengan pertimbangan daya resap bumbu dari daging ikan belanak, konon dipercaya lebih mumpuni dari ikan yang lain.

Silakan mencoba…

 

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.
cryptologic casino no deposit casino first deposit free deposit rr5 casino casino deposit match 10 no deposit all slots mobile casino