Cirebon Heritage Tour Sebuah Catatan Perjalanan Budaya

Gambir, 28 Desember 2015 pukul 05.00 WIB hari masih gelap, namun sudah ramai dikunjungi orang yang hendak bepergian maupun sekedar mengantarkan sanak keluarganya yang akan pergi ke luar kota. Di antara sekian banyak pengunjung yang berdatangan, termasuk di antaranya adalah peserta Tour Cirebon Heritage yang diselenggarakan oleh Aspertina. Meskipun terbilang awal memulai hari, satu persatu peserta yang hadir tampak bersemangat melapor kepada Ferdinand Hendriono, sebagai Ketua Rombongan yang menunggu di depan Starbucks Coffee sebagai meeting point.

Tepat sebelum pukul 05.30 AM, semua peserta sudah hadir dan saling berkenalan. Masing-masing sudah mendapatkan tiket Kereta Api Eksekutif Cirebon Express dan paper bag Aspertina yang berisi snack pagi, jadwal perjalanan, kuesioner dan sebuah pena. Peserta dengan jumlah 29 orang, 3 diantaranya adalah anak-anak dengan bersemangat menaiki tangga menuju ke lantai 2, tempat kereta telah menunggu.

Tepat pukul 06.00 WIB, Kereta Cirebon Ekspress berangkat dari Gambir. Perjalanan kali ini tampak sedikit menyisakan tempat kosong. Cirebon sebagai destinasi wisata baru, memang menjadi alternatif pilihan banyak orang. Tak heran pada akhir minggu, tempat belanja dan tempat makan tertentu terpaksa membuat pengunjung harus bersabar menunggu.

Tiba di Stasiun Cierbon pukul 09.00 WIB tepat, kami dijemput oleh bis yang segera membawa kami menikmati sarapan pagi Nasi Jamblang Bu Nur. Rumah makan 2 lantai yang terbilang cukup besar ini penuh sesak oleh pengunjung. Beruntung panitia telah memesan sebelumnya, dan kami menempati ruang makan khusus yang lebih nyaman. Sebagian peserta mengaku bahwa ini adalah pengalaman pertama menikmati Nasi Jamlang yang menyajikan masakan khas kedelai ampas kecap yang hampir tidak ditemui di daerah lain. Nasi putih yang dibungkus dengan daun jati ditambah dengan aneka lauk memanjakan semua peserta yang antusias mencoba salah satu kuliner kebanggaan Kota Cirebon.

Dengan perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Rumah Kerang yang terletak dipinggiran kota Cirebon. Kami dibuat keheranan, bahwa dengan bahan yang relatif sederhana, dapat menghasilkan karya yang begitu indah, semuanya dari kerang-kerangan. Aneka aksesoris, taplak meja, lampu, cermin, pigura, hiasan dinding,  sekat ruangan, meja dan kursi sampai pada tempat tidur. Semuanya dijual dengan harga yang terjangkau dan dapat dikirim langsung ke Jakarta dengan membayar biaya kirim.

 

Foto: Rumah Kerang

Setelah puas berbelanja hasil kerajinan di Rumah Kerang, kami melanjutkan perjalanan ke desa batik Trusmi. Kami mengunjungi 2 toko batik dan berkenalan dengan aneka motif khas daerah Cirebon. Motif Megamendung adalah salah satu motif paling terkenal dan paling dikenal masyarakat. Motif Cirebonan lainnya adalah Singa Payung, Singa Barong, Kembang Terompet, dan lain-lain. Di desa Trusmi, kami mendapat kesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan batik cap dan tulis. Pengalaman berbelanja batik, sesungguhnya merupakan kesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya batik. Kesempatan untuk mengenal motif, warna dan kekhasan masing-masing corak dari batik nusantara.


 

Foto: Batik Trusmi

Meninggalkan desa Trusmi dan pusat batik Trusmi, kami menuju Rumah makan Empal Gentong H. Apud. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 PM ketika kami tiba di sana, namun rumah makan tersebut masih sangat padat dipenuhi pengunjung. Meskipun kami telah melakukan pemesanan beberapa hari sebelumnya, kami tetap harus menunggu kursi dan meja yang kosong. Namun tidak sia-sia kami menunggu, karena santap siang kali ini sungguh istimewa. Seporsi tahu gejrot, semangkuk empal gentong, nasi putih dan tidak ketinggalan sate kambing khas Cirebon yang berlemak banyak! Kelapa batok sebagai penyegar, menutup makan siang kami.

Dengan perut kenyang dan puas, kami berangkat menuju Keraton Kasepuhan. Kami disambut seorang pemandu, yang membawa kami berkeliling kompleks keraton dan menjelaskan detail silsilah keluarga kerajaan, makna dari bangunan serta berbagai benda pusaka yang digunakan dalam acara-acara resmi kerajaan.

Keraton Kasepuhan mempunyai beberapa Kereta Kencana yang digunakan oleh Raja dalam berbagai kesempatan. Salah satu yang paling terkenal adalah Kereta Kencana Singabarong dengan hiasan  hewan yang merupakan gabungan dari 3 hewan sekaligus; yakni gajah, garuda, dan naga. Selain itu juga terdapat lukisan Prabu Siliwangi yang dilukis dengan teknik 3 dimensi, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung. Selain itu terdapat pula tandu dan kereta khusus dengan 8 roda kayu yang ditarik oleh sapi putih dan digunakan pada acara-acara tertentu.


 

Foto: Kereta Kencana di Keraton Kasepuhan

Pada bagian halaman belakang Keraton Kasepuhan, terdapat sumur yang dipercaya dapat membuat awet muda hanya dengan mencuci muka dengan air yang berasal dari sumur tersebut. Begitu banyak sejarah dan budaya yang tersimpan di dalam Keraton Kasepuhan. Sungguh sangat disayangkan apabila masyarakat tidak mengenal dan menyintainya sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Tujuan terakhir kami adalah Vihara Welas Asih. Vihara yang dibangun pada tahun 1595 ini berdiri di atas lahan seluas 1850 m. Meskipun sudah berusia lebih dari 500 tahun, vihara ini masih terawat dengan baik dan masih dikunjungi oleh banyak orang. Pada Vihara Welas Asih terdapat beberapa altar sembahyang kepada beberapa dewa, diantaranya adalah Dewa Bumi, Dewa Akhirat, Dewa Perang, Dewa Dagang dan dewa lainnya. Tak kalah menarik adalah lukisan yang terletak di kiri dan kanan altar utama, yang kisahnya diambil dari cerita Sam Kok. Lukisan yang dilukis pada tahun 1960, saat ini berada dalam kondisi yang kurang baik. Lukisan tersebut menghitam dan sebagian telah rusak. Sangat disayangkan apabila karya seni ini tidak lagi dapat dinikmati di masa yang akan datang.

Perjalanan tour kami berakhir dengan diantarnya kembali ke Stasiun Kereta Api Cirebon. Dengan membawa hasil perburuan batik dan makanan khas Cirebon, kami kembali ke Jakarta. Sebagian peserta mulai mengisi kuesioner, dan salah satunya bertanya mengenai kota budaya manakah yang diharapkan untuk dikunjungi pada tour berikutnya. Dan saya melihat seorang peserta menuliskan Lasem, sebuah kota yang tercatat menyimpan banyak cerita mengenai budaya, seperti juga Cirebon adanya, yang tidak hanya menjadi kota budaya peranakan, tetapi lebih dari itu memperkaya budaya Indonesia.

Penulis: Rebecca Muljadi